Batam – Polemik Rempang Galang Kepri Batam saat ini menjadi perhatian publik tanah air. Apalagi, isu ini naik di saat tahun politik.
Banyak pihak yang memanfaatkan isu tersebut untuk numpang tenar dan mencari simpati masyarakat Kepri juga masyarakat Melayu.
Aktivis Pemuda Moeslim Jayakarta Chaerul menilai isu Rempang kini ditunggangi oleh kelompok-kelompok jebolan 212 dan dimanfaatkan untuk memanaskan mesin organisasinya jelang Pemilu 2024.
“Sudah mulai marak kelompok-kelompok yang manfaatkan isu Rempang. Padahal isu ini sudah lama, dan dimanfaatkan di tahun politik. Nampak banyak bredar pamflet berlogo tiga organisasi yang akan melakukan aksi bela Rempang yaitu FPI, Alumni 212, dan GNPF Ulama. Juga sudah mulai kelompok ormas terlarang HTI juga ikutan soroti isu tersebut,” ujarnya, hari ini.
Menurutnya, isu yang dimainkan tersebut tidak lain adalah untuk memprovokasi masyarakat Melayu untuk menyerang Pemerintahan Jokowi. Dan juga sebagai pemanasan cek ombak kekuatan kelompok mereka di tahun politik ini.
“Para tokoh-tokoh lama mulai dari HRS, UAS, GN, dll juga sudah mulai bermunculan. Bahkan ada instruksi ikuti komando ulama. Genderang tahun politik sudah mulai dimainkan,” sebutnya.
Kata dia, dalam sebuah negara demokratis, hak untuk berpendapat dan berkumpul adalah sah-sah saja karena itu bagian dari proses demokrasi. Namun, penting untuk tidak menyalahgunakan kesempatan ini dengan melakukan tindakan provokatif yang berpotensi memicu konflik berkepanjangan.
“Ada tendensi terselubung dibalik gerakan bawah tanah ini. Jika dulu memanfaatkan isu 212 dan PKI, dan sekarang isu yang dirawat adalah Rempang Galang. Tapi kami yakin masyarakat Rempang yang notabene adalah pemilih Jokowi tidak terprovokasi adanya provokator penumpang gelap,” tukasnya.












