Koma.id – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi mendesak agar Kementerian Agama bersama kepolisian mungusut tuntas dugaan ajara sesat di Ponpes Al-Zaytun.
Menurut dia, polisi sangat boleh memaksa masuk ke ponpes tersebut sesuai keperluan penyelidikan.
“Jika (ponpes) memang ada indikasi penyimpangan, aparat kepolisian harus bertindak dan boleh memaksa masuk untuk keperluan penyelidikan sesuai kewenangan UU. Jika sudah ada bukti awal, siapa pun tidak boleh menghalangi penegakan hukum,” kata Ahmad Fahrur Rozi kepada wartawan, Sabtu (17/6/2023).
Fahrur meminta Kemenag, MUI, jaksa, hingga polisi menginvestigasi Ponpes Al-Zaytun. Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak terkecoh bila ada ajaran yang salah dalam ponpes tersebut.
“Saya kira sudah saatnya pihak Kementerian Agama bekerja sama dengan MUI dan kepolisian melakukan investigasi untuk menjawab pertanyaan masyarakat agar tidak ada yang terkecoh jika ajaran mereka salah,” kata Fahrur.
Fahrur mengatakan semua umat Islam harus tunduk dan patuh pada ajaran agama Islam. Fahrur mengatakan pesantren yang memperbolehkan zina adalah sesat dan harus ditegur.
“Bahwa ajaran syariah Islam itu sudah sempurna. Ditulis, dibukukan dengan jelas, mana yang halal dan haram. Semua muslim wajib tunduk patuh pada syariah Islam,” kata dia.
“Apabila ada pemikiran yang menyimpang, semisal membolehkan perzinaan atau meragukan kitab suci Al-Qur’an, itu adalah pemikiran sesat yang harus ditegur dan diperingatkan agar kembali ke jalan yang benar oleh pihak yang berwenang,” ujarnya lagi.
Kendati demikian, kata Fahrur, bila sengaja mengajarkan aliran sesat dan menolak kembali ke jalan yang benar, pesantren harus diberi sanksi. Fahrur meminta masyarakat selektif memilih lembaga pendidikan Islam bagi anak.
“Apabila pelaku dengan sengaja melakukan penyesatan dan menolak kembali ke jalan yang benar, harus dihukum agar tidak menyebarkan kesesatan kepada masyarakat dan sebaiknya masyarakat selektif memilih lembaga pendidikan Islam untuk anak agar tidak salah masuk ke lembaga yang beraliran aneh, tidak sesuai paham ahlussunnah wal jamaah yang menjadi pegangan mayoritas muslim di dunia,” ungkapnya.
“Menyelamatkan akidah anak lebih penting daripada sekedar kemegahan sarana sebuah lembaga pendidikan. Pesantren adalah lembaga yang mengajarkan moralitas dan budi mulia,” tukasnya.














