Koma.id– Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Alfred Papare, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang berkaitan dengan agenda yang disebut “Black September” yang dikaitkan dengan rencana unjuk rasa. Pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Papua Barat.
“Saya mengimbau masyarakat di wilayah Papua Barat jangan terprovokasi dengan isu-isu yang dibawa sebagai agenda ‘Black September’. Kami akan tindak tegas kalau ada yang terprovokasi,” ujar Alfred dikutip.
Alfred menjelaskan bahwa kepolisian telah menerima informasi mengenai ajakan untuk menggelar demonstrasi berskala besar yang tersebar melalui sejumlah media sosial.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya telah membangun komunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga tokoh pemuda. Langkah tersebut diambil guna memastikan suasana di Papua Barat tetap aman dan damai.
“Kita ketahui bersama bahwa Papua Barat ini daerah yang aman dan tenteram. Pengawasan akan kami tingkatkan untuk deteksi boncengan isu dalam setiap aksi unjuk rasa,” tambahnya.
Di sisi lain, Alfred menegaskan bahwa kepolisian tetap menjamin dan menghormati hak warga untuk menyampaikan aspirasi. Namun demikian, penyampaian pendapat di muka umum wajib dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Masyarakat yang berencana menggelar aksi juga diingatkan untuk memenuhi kewajiban memberikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian terlebih dahulu serta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Kepatuhan terhadap aturan tersebut dinilai penting agar pembangunan dan aktivitas keseharian warga di Papua Barat tidak terganggu.
Alfred juga secara khusus menyoroti peristiwa pemalangan jalan yang terjadi di empat titik wilayah Manokwari beberapa waktu lalu. Ia menegaskan tidak akan mentoleransi tindakan serupa yang dinilai menghambat aktivitas warga dan meminta hal tersebut tidak terulang kembali.
“Seperti beberapa hari lalu di Manokwari ada aksi pemalangan empat titik. Itu tidak boleh terjadi lagi. Saya tidak mentolerir karena menghambat aktivitas masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, isu yang dikaitkan dengan “Black September” juga telah menjadi perhatian tingkat pusat. Wakapolri, Komjen Polisi Dedi Prasetyo, telah memerintahkan seluruh jajaran kepolisian untuk melakukan antisipasi terhadap potensi gelombang demonstrasi yang diperkirakan berlangsung pada 24 September 2026 tanggal yang bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional serta peristiwa Semanggi II.








