Koma.id | Jakarta – Penumpukan sampah di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikeluhkan warga setelah tembok pembatas jebol dan sampah meluber ke permukiman. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan masalah ini dapat ditangani dalam waktu 7–8 hari ke depan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut penumpukan terjadi akibat gangguan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, khususnya di zona 4A. Gangguan tersebut membuat aktivitas pengangkutan sampah tertahan dan berdampak ke wilayah Kramat Jati.
“Nanti detailnya akan dijelaskan Dirut Pasar Jaya. Mudah-mudahan tujuh sampai delapan hari lagi selesai. Saat ini sedang ditangani,” ujar Pramono di Pasar Gardu Asem, Jakarta Pusat, Senin (06/04).
Habib Syakur: Tahun Baru Hijriyah 1448 Harus Menjadi Momentum Memperkuat Persatuan Bangsa
Menurutnya, Pemprov DKI telah menerjunkan tim untuk mempercepat proses pengangkutan. “Memang dampaknya berantai dari zona 4A Bantar Gebang hingga ke kondisi saat ini. Saya sudah meminta Dirut Pasar Jaya agar penanganan di Kramat Jati segera diselesaikan,” tambahnya.
Sebelumnya, gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dilaporkan menyebabkan dua titik tembok pembatas jebol. Satu titik selebar sekitar 10 meter, sementara titik lainnya sekitar 2 meter. Warga mengeluhkan bau menyengat yang semakin parah sejak tembok jebol.
“Baunya sangat menyengat. Apalagi kalau tertiup angin, makin terasa. Sejak jebol ini jadi lebih parah,” kata Tuswadi, warga sekitar.
Pantauan di lokasi menunjukkan ketinggian sampah mencapai sekitar enam meter, melampaui lampu penerangan jalan dan truk yang melintas. Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pedagang dan warga sekitar, sementara pemerintah berjanji penanganan akan rampung dalam sepekan.







