Koma.id | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mencabut peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang Bitung, Sulawesi Utara, dan perairan Maluku Utara pada Kamis (02/04).
โDengan memperhatikan kondisi terkini, tidak ada lagi kenaikan air laut signifikan yang membahayakan. Maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB,โ ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers daring.
Jurnalis Republika Ditangkap Tentara Israel
Sejak gempa utama terjadi, BMKG mencatat 48 kali gempa susulan hingga pukul 09.50 WIB, dengan kekuatan terbesar 5,5 magnitudo. BMKG menegaskan pemantauan aktivitas gempa susulan akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah.
Sekarang Pejabat Gemar Bohong, Prof Romli Sampai Singgung Lebih Baik Ustadz Jadi Presiden
Gempa kuat tersebut menimbulkan kepanikan warga di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Seorang warga Manado dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara satu orang lainnya mengalami patah kaki. Sejumlah bangunan, termasuk Gereja Katolik Bunda Hati Kudus Yesus di Rumengkor, mengalami kerusakan.
Tak lama setelah gempa, warga pesisir melaporkan air laut sempat surut drastis. Fenomena ini memicu kepanikan karena kerap dikaitkan dengan potensi tsunami. BMKG segera mengimbau masyarakat menjauh dari pantai dan mencari lokasi lebih tinggi hingga situasi dinyatakan aman.
BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan, menjauhi wilayah pesisir untuk sementara waktu, serta mengikuti arahan petugas di lapangan. Warga juga diingatkan agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan rawan gempa. Pemerintah menekankan pentingnya solidaritas warga, kepedulian terhadap sesama, dan ketenangan dalam menghadapi situasi darurat.








