Koma.id– Tragedi seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pulpen, menjadi tamparan keras bagi kemanusiaan dan bukti bahwa fungsi dasar negara di bidang pendidikan belum berjalan merata.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menekankan tidak seharusnya ada anak bangsa yang kehilangan harapan hidup hanya karena keterbatasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar.
Pengamat politik Ferdinand Hutahaean juga menyatakan kesedihannya mendengar bocah berusia 10 tahun itu memilih mengakhiri hidup karena ketiadaan pensil dan buku.
Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepolisian tidak hanya melihat kasus ini secara sempit akibat ketiadaan alat tulis, tetapi juga mengkaji aspek pengasuhan dan kondisi sosial korban yang diketahui tidak tinggal bersama orang tua dan minim pendampingan. Lalu mengembangkan penyelidikan, termasuk kemungkinan adanya praktik perundungan di lingkungan sekolah.







