Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaKesehatan

Waspada Risiko Nipah Bisa dari Buah dan Hewan Ternak

Views
×

Waspada Risiko Nipah Bisa dari Buah dan Hewan Ternak

Sebarkan artikel ini
Waspada Risiko Nipah Bisa dari Buah dan Hewan Ternak

Koma.id Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa virus Nipah belum ditemukan di Indonesia hingga saat ini. Hal ini ditekankan menyusul kekhawatiran terhadap penyebaran virus Nipah di India, dengan tingkat kematian tinggi dan belum adanya vaksin atau obat khusus.

Meski demikian, pemerintah melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan panduan keamanan pangan sebagai langkah antisipasi dini. Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menegaskan bahwa penularan virus Nipah dapat terjadi melalui buah-buahan yang terkontaminasi liur kelelawar. Hal ini disebabkan kebiasaan kelelawar memakan buah langsung dari pohon, sehingga memungkinkan virus berpindah ke permukaan buah sebelum dikonsumsi manusia.

Silakan gulirkan ke bawah

“Buah selalu cuci bersih kalau itu ada kulitnya dikupas tuntas biasanya resikonya menjadi hampir nol. Jadi kalau kita memasaknya (daging) maka virus ini mati itu prinsip umum bukan cuman untuk cegah virus nipah tapi bisa untuk virus-virus yang lain juga,” ujar Dominicus Husada, dalam konferensi pers daring, dikutip.

Dominicus menjelaskan bahwa kelelawar dari genus Pteropodidae, yang merupakan reservoir alami virus Nipah, tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia.

Selain melalui buah yang terkontaminasi, virus Nipah juga dapat menular ke manusia melalui hewan perantara, khususnya hewan ternak. Beberapa hewan yang berpotensi terinfeksi antara lain babi, kuda, kambing, serta hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Di antara hewan tersebut, babi disebut sebagai salah satu inang perantara yang paling rentan dan berpotensi menjadi sumber penularan antarmanusia.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar babi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, dalam beberapa kasus, babi dapat mengalami demam akut, gangguan pernapasan, hingga gejala neurologis seperti tremor, kedutan, dan kejang otot. Kondisi tersebut sering kali luput dari perhatian karena gejalanya tidak selalu muncul secara bersamaan.

“Umumnya, babi yang terinfeksi tidak mengalami gejala apa pun, namun beberapa mengalami demam akut, sesak napas, dan gejala neurologis seperti gemetar, berkedut, dan kejang otot,” ucap Dominicus.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.