Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan

Views
×

Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan

Sebarkan artikel ini
Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan
Beberapa warga tengah bermain di pantai desa Lebah Amed, Bali. (Foto : Koma.id / Andry Novelino)

Koma.id Pemulihan sektor pariwisata di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pascapandemi menunjukkan tren yang positif, namun sayangnya pariwisata Indonesia justru menghadapi pil pahit di tengah kompetisi regional yang sengit.

Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai Indonesia tak bisa lagi bergantung pada Bali sebagai motor utama pariwisata nasional di tengah kompetisi regional yang semakin ketat.

Silakan gulirkan ke bawah

Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, mengatakan Vietnam telah menyalip posisi Indonesia dalam perolehan wisatawan mancanegara selama dua tahun berturut-turut pascapandemi Covid-19.

“Posisi pariwisata Indonesia kini tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga, terutama Vietnam yang telah berhasil menyalip Indonesia selama dua tahun terakhir,” ujar Sandy di Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Berdasarkan data ASEAN Statistics Division (ASEANStats), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke kawasan ASEAN pada 2024 mencapai lebih dari 127 juta orang. Sekitar 85,7 persen kunjungan terkonsentrasi di lima negara, yakni Thailand dengan 35,5 juta wisatawan, Malaysia 25 juta, Vietnam 17,6 juta, Singapura 16,5 juta, dan Indonesia di posisi kelima dengan 14,3 juta wisatawan.

Sandy menyoroti lonjakan signifikan pariwisata Vietnam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, Vietnam hanya mencatat sekitar 4.000 wisatawan mancanegara. Angka itu melonjak menjadi 12,6 juta pada 2023 dan kembali naik menjadi 17,6 juta pada 2024. Sementara Indonesia mencatat 11,7 juta wisatawan pada 2023 dan 14,3 juta pada 2024.

Menurut Sandy, keberhasilan Vietnam tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur pariwisata secara agresif, salah satunya proyek Bandara Internasional Long Thanh yang diproyeksikan mampu menampung hingga 100 juta penumpang per tahun.

“Vietnam bergerak sangat serius dengan pembangunan infrastruktur masif, sementara Indonesia masih menghadapi persoalan konektivitas udara yang terbatas,” katanya.

NEXT Indonesia Center juga mencatat penurunan pangsa pasar pariwisata Indonesia di ASEAN. Pada 2022, Indonesia menguasai 13,51 persen pasar wisatawan regional. Angka itu turun menjadi 11,45 persen pada 2023 dan kembali melemah ke 11,28 persen pada 2024.

“Kita tidak bisa hanya merayakan pemulihan pariwisata jika pada saat yang sama pangsa pasar justru terus menyusut,” tegas Sandy.

Persaingan juga terlihat dalam perebutan wisatawan asal Tiongkok, yang menjadi motor utama pemulihan pariwisata kawasan. Pada 2024, kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia hanya mencapai 1,2 juta orang, jauh di bawah Thailand (6,7 juta), Vietnam (3,7 juta), Malaysia (3,3 juta), dan Singapura (3,1 juta).

Sandy menilai rendahnya minat wisatawan Tiongkok ke Indonesia mengindikasikan persoalan struktural, mulai dari keterbatasan penerbangan langsung, promosi yang belum tersegmentasi, hingga kesiapan destinasi non-Bali yang belum merata.

Di sisi lain, kondisi Pulau Bali dinilai mulai menunjukkan tanda kejenuhan. Masalah kemacetan, penumpukan sampah, hingga tekanan lingkungan akibat alih fungsi lahan dinilai berpotensi menurunkan kualitas pengalaman wisatawan. Ketergantungan berlebihan pada Bali disebut menjadi risiko besar bagi keberlanjutan pariwisata nasional.

Apa Kabar Program Bali Baru?

Pemerintah sejatinya telah menggulirkan program “Bali Baru” dan menetapkan lima Destinasi Superprioritas (DSP), yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Namun, Sandy menilai pengembangan DSP masih menghadapi kendala serius, terutama pada ekosistem layanan, kesinambungan investasi, dan daya tarik wisatawan internasional.

Bahkan, Likupang di Sulawesi Utara disebut mulai kehilangan momentum setelah tidak lagi masuk dalam daftar prioritas utama RPJMN 2025–2029.

“Jika destinasi superprioritas gagal menarik arus wisatawan mancanegara secara signifikan, maka investasi infrastruktur hanya akan menjadi proyek besar yang sepi pengunjung,” ujar Sandy.

NEXT Indonesia Center menilai Indonesia membutuhkan langkah berani untuk membenahi sektor pariwisata secara menyeluruh, mulai dari menekan biaya transportasi domestik, memperluas konektivitas udara internasional langsung ke destinasi unggulan, hingga meningkatkan kualitas layanan pariwisata di daerah.

“Pilihannya hanya dua, berani melakukan perombakan menyeluruh atau pasrah melihat devisa pariwisata terus mengalir ke negara tetangga,” pungkas Sandy.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.