KOMA.ID, JAKARTA – Film terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell, resmi terpilih dalam ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, tepatnya di Berlinale Forum, salah satu program paling prestisius dalam festival tersebut. Terpilihnya film ini menandai kehadiran sinema Indonesia di panggung global yang dikenal selektif terhadap karya-karya dengan visi artistik dan keberanian tematik.
Berlinale Forum selama ini dikenal sebagai ruang kurasi bagi film-film yang mendorong batas sinema—baik dari segi bentuk, bahasa visual, maupun ketajaman membaca realitas sosial dan politik. Masuknya Ghost in the Cell menempatkan film ini dalam tradisi Forum sebagai wadah karya yang tidak konvensional, berani, dan reflektif terhadap konteks negara asalnya.
Meski kerap diasosiasikan dengan film eksperimental, Forum juga memberi ruang bagi film genre dengan bobot sosial yang kuat. Sejumlah judul besar pernah hadir dalam program ini, termasuk Snowpiercer (2014) karya Bong Joon-ho dan Exhuma (Pa-myo) (2024) karya Jang Jae-hyun, yang diputar sebagai special screening. Hal ini menegaskan posisi Forum sebagai rumah bagi film ‘besar’ yang tetap memiliki identitas artistik dan komentar sosial yang tajam.
“Kami sangat bangga Ghost in the Cell terpilih di section ini di Berlinale. Forum dikenal secara kuratorial memilih film yang bukan hanya mengandalkan cerita, tetapi juga memiliki relevansi kuat dengan situasi sosial dan politik negara asalnya,” ujar Joko Anwar, Jumat (16/1/2026).
Ghost in the Cell dijadwalkan diputar sebanyak tiga kali selama rangkaian Berlinale yang berlangsung pada 12–22 Februari 2026. Film ini akan menjalani world premiere di bioskop bersejarah Delphi Filmpalast am Zoo pada 13 Februari 2026.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai oleh kekerasan dan ketidakadilan sistemik, Ghost in the Cell memadukan horor dengan kritik sosial. Film ini membongkar bagaimana sebuah sistem dapat melindungi kekuasaan, bahkan di ruang yang seharusnya menjadi tempat hukuman dan keadilan. Seleksi di Berlinale Forum menegaskan film ini sebagai karya genre yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga sarat gagasan dan kekuatan bahasa sinema.
Partisipasi di Berlinale Forum membuka Ghost in the Cell pada perhatian komunitas sinema global, mulai dari programmer festival, kritikus, kurator, hingga pelaku industri yang menjadikan Berlinale sebagai salah satu barometer utama kalender film dunia.
“Ini menjadi sinyal bahwa Ghost in the Cell adalah film dengan kekuatan cerita, bahasa sinema, dan gagasan yang menjanjikan untuk segera dinikmati penonton bioskop Indonesia,” kata produser film, Tia Hasibuan.
Ghost in the Cell diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures, dengan Barunson E&A bertindak sebagai sales agent untuk perilisan internasional.













