Koma.id | Jakarta – Perjalanan panjang Sheila On 7 ternyata tak selalu mulus. Band asal Yogyakarta yang kini sudah berusia lebih dari dua dekade itu pernah melewati masa penuh ego, terutama saat merilis album Pejantan Tangguh pada 2004.
Dalam konferensi pers di Jakarta, vokalis Duta Modjo mengakui bahwa kala itu usia mereka masih 24–25 tahun, masa di mana idealisme lebih sering mengalahkan pertimbangan pasar.
“Itu adalah salah satu keegoisan kami memikirkan keinginan. Secara industri mungkin penjualannya kurang dibanding album sebelumnya, tapi secara kepuasan musik kami sangat puas,” ungkap Duta.
Album yang lahir di usia ke-8 Sheila On 7 itu banyak dipengaruhi musik internasional seperti Radiohead dan Silverchair. Mereka memilih bereksperimen, meski akhirnya harus menerima kenyataan bahwa selera pendengar tidak sepenuhnya sejalan. “Kami egois, nggak mikirin pendengar,” lanjutnya.
Gitaris Eross Candra menambahkan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga. “Setelah itu baru kami belajar. Oh oke, referensi yang seperti ini bijak kalau dituangkan di album, yang itu mending nggak usah. Jadi buat musisi baru, belajarlah dari pengalaman,” katanya.
Buntut Dugaan Suap Ketua BEM UBK, Amnesty Wanti-Wanti Ancaman Serius bagi Gerakan Mahasiswa
Kini, setelah melewati fase penuh ego, Sheila On 7 justru semakin matang. Lewat single terbaru berjudul Sederhana, mereka mengangkat tema kebutuhan dan keinginan. Lagu ini lahir dari refleksi Eross saat pandemi, ketika ia menyadari bahwa sebagian alat musik yang dibeli hanya karena tren, bukan kebutuhan.
“Ternyata beberapa barang cuma jadi sekadar koleksi. Tapi ada juga yang tetap berguna, jadi investasi,” ujarnya.
Duta menambahkan, proses belajar itu membuat mereka lebih bijak dalam menyeimbangkan idealisme dan kebutuhan industri.
“Hidup ini kan proses belajar. Kami beruntung karena lingkungan juga mendukung untuk menjalani kehidupan seperti ini,” tuturnya.
Pengakuan jujur Sheila On 7 ini menjadi potret perjalanan sebuah band besar: dari fase egois, jatuh bangun, hingga akhirnya menemukan keseimbangan antara kepuasan pribadi dan kebutuhan pendengar.








