Koma.id – Di sebuah sudut tenang kawasan Cimanggis, Depok, derik halus suara burung perkutut menyambut siapa pun yang melangkah masuk ke Top Bird Farm. Di tempat inilah, seorang purnawirawan TNI AL memilih menghabiskan masa pensiunnya. Bukan dengan diam, melainkan merawat kehidupan, nada, dan kesabaran.
Laksamana Muda TNI (Purn) Muryono (72), mantan Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), sudah akrab dengan dunia perkutut jauh sebelum masa pensiun tiba. Sejak 1989, ketika masih berpangkat Kapten TNI AL, Muryono mulai menekuni hobi menangkarkan burung yang dikenal dengan suara merdu dan filosofi ketenangannya itu.
Dari Seragam ke Sangkar
Purna tugas pada 2010 tak membuat Muryono berhenti berkarya. Ia membangun penangkaran perkutut secara serius. Kini, 179 kandang berdiri rapi di halaman penangkarannya, masing-masing berisi perkutut dari berbagai garis keturunan unggulan.
Setiap detail diperhatikan. Dari perawatan indukan, pencatatan silsilah, hingga proses awal kehidupan perkutut. Di salah satu sudut kandang, seorang pekerja tampak telaten memasangkan gelang kecil di kaki anak perkutut yang baru berumur seminggu—tanda awal identitas dan harapan.
Top Bird Farm bukan sekadar tempat beternak. Ia menjelma ruang belajar bagi para penghobi perkutut dari berbagai daerah. Banyak yang datang untuk menimba ilmu, berdiskusi, atau sekadar menyaksikan langsung bagaimana perkutut dirawat dengan kesabaran tingkat tinggi.
Den Bagus, Sang Legenda
Nama Den Bagus tak bisa dilepaskan dari kisah Muryono. Perkutut unggulan miliknya itu pernah menjadi primadona di dunia kontes. Puncaknya terjadi pada pengujung 2012, ketika Den Bagus meraih nilai sempurna dalam kontes Piala Infanteri.
Popularitas Den Bagus melambung. Tawaran pun berdatangan—bahkan pernah disandingkan dengan harga sebuah mobil mewah. Namun Muryono bergeming.
“Rezeki dari Tuhan tidak akan pernah tertukar,” ujarnya kala itu.
Bagi Muryono, Den Bagus bukan sekadar burung. Ia adalah hasil kesabaran, proses panjang, dan ikatan emosional. Sayangnya, Den Bagus mati pada April 2014. Meski demikian, jejaknya terus hidup melalui keturunan-keturunan terbaik yang masih dirawat hingga kini.
Beternak Bukan Sekadar Lomba
Perkutut-perkutut dari Top Bird Farm tak hanya berlaga di dalam negeri. Beberapa di antaranya pernah mengikuti kontes di luar negeri, seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia. Namun bagi Muryono, inti dari dunia perkutut bukanlah piala.
“Beternak lebih sulit daripada berkompetisi. Beternak punya banyak tantangan dan risiko, sedangkan lomba hanya mengejar hadiah dan penghargaan,” kata Muryono.
Pernyataan itu seolah merangkum filosofi hidupnya. Beternak adalah soal ketekunan, kegagalan, dan konsistensi—nilai-nilai yang juga ia pegang selama berdinas di militer.
Nada yang Terus Dijaga
Di usia senjanya, Muryono tak sekadar memelihara burung. Ia menjaga warisan: pengetahuan, etika beternak, dan kecintaan pada alam. Top Bird Farm menjadi saksi bahwa masa pensiun bukan akhir pengabdian, melainkan bab baru yang lebih sunyi, namun penuh makna.
Di antara kicau perkutut yang bersahut-sahutan, Muryono menemukan ritme hidup yang ia pilih sendiri—tenang, sabar, dan setia pada proses.











