Koma.id– Rencana Presiden Prabowo Subianto memperluas perkebunan kelapa sawit di Papua untuk mengejar target swasembada energi biodiesel menuai kritik tajam dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dalam pernyataannya di kanal YouTube pribadi, Ahok memperingatkan agar pemerintah tidak mengorbankan hutan hujan tropis Papua yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Ahok mencontohkan praktik lebih berkelanjutan seperti di Malaysia yang menanam sawit di lahan bekas tambang, bukan dengan membuka hutan baru. Pasalnya teknologi pemupukan modern mampu mengubah lahan tandus menjadi produktif tanpa harus merusak ekosistem primer.
Menurutnya, alih fungsi hutan hujan menjadi pertanian monokultur akan menghancurkan habitat flora dan fauna endemik Papua serta berpotensi memicu bencana ekologis, mengulangi tragedi deforestasi masif seperti yang terjadi di Sumatra.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto tetap optimistis bahwa Papua memegang peran strategis dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Ia menargetkan penanaman sawit, tebu, dan singkong di berbagai daerah, termasuk Papua, untuk menghasilkan biodiesel dan etanol. Targetnya, Indonesia dapat menghemat ratusan triliun rupiah dari impor energi dalam lima tahun ke depan.
Rencana ini justru diumumkan di tengah duka nasional akibat banjir bandang yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Sejumlah organisasi lingkungan, termasuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), menilai kebijakan perluasan sawit ke Papua berisiko memindahkan bencana ekologis dari Sumatra ke wilayah timur Indonesia. Mereka juga menyayangkan waktu pengumuman kebijakan tersebut, yang dinilai mencerminkan lemahnya empati pemerintah terhadap krisis lingkungan dan kemanusiaan yang sedang berlangsung.







