Koma.id, Jakarta – Buronan kelas kakap jaringan narkoba internasional, Dewi Astuti alias “PA” (43), akhirnya berhasil ditangkap dalam operasi senyap di Kamboja. Sosok yang selama ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan menjadi prioritas Badan Narkotika Nasional (BNN) itu sebelumnya disebut sebagai otak penyelundupan sabu 2 ton di Perairan Karimun, Kepulauan Riau salah satu kasus terbesar dalam sejarah Indonesia.
Penangkapan ini dilakukan melalui operasi terpadu yang melibatkan BNN, BAIS TNI, Interpol, serta otoritas keamanan Kamboja, dengan supervisi langsung dari Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto.
Sosok Dewi Astuti yang Misterius
Dewi Astuti atau yang dikenal juga dengan nama Dewi Astutik, berasal dari Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur. Namun identitasnya sejak awal menuai tanda tanya. Aparat desa bahkan mengaku tidak menemukan nama tersebut dalam data kependudukan, memunculkan dugaan kuat bahwa ia menggunakan identitas palsu, termasuk identitas adiknya.
Dalam kesehariannya sebelum kabur, Dewi dikenal sebagai sosok yang sering berganti penampilan, dari gaya rambut hingga riasan wajah. Warga meyakini perubahan itu adalah bagian dari upayanya mengaburkan jejak sebagai bagian dari jaringan narkoba internasional.
Ia disebut pernah bekerja sebagai TKW di beberapa negara Asia Taiwan, Hong Kong, dan Kamboja sekaligus membangun jejaring yang kelak dipakai untuk mengoperasikan jalur distribusi narkoba lintas-negara.
Otak dari 2 Ton Sabu di Karimun
Nama Dewi mencuat setelah pengungkapan besar pada 22 Mei 2025, ketika BNN bersama TNI AL dan Bea Cukai menggagalkan penyelundupan 2.115 kilogram sabu yang disembunyikan dalam kompartemen kapal Sea Dragon Tarawa di Perairan Karimun.
Enam awak kapal ditangkap, empat di antaranya WNI dan dua Warga Negara Thailand. Dari penyidikan para tersangka, nama Dewi Astuti muncul sebagai pengendali utama yang mengatur jalur pengiriman, pendanaan, hingga penempatan kurir. Kasus ini diperkirakan memiliki nilai peredaran mencapai Rp 5 triliun.
Sejak itu Dewi resmi menjadi DPO dan masuk dalam daftar red notice Interpol.
Jejak Pelarian hingga Kamboja
Setelah kabur dari Indonesia, Dewi berpindah-pindah negara dengan identitas berbeda. Investigasi intelijen mengungkap bahwa Dewi sempat terdeteksi di Thailand, Vietnam, dan akhirnya Kamboja. Di negara terakhir inilah ia sempat bekerja di sektor informal dan berbaur dengan komunitas pekerja migran untuk menyamarkan aktivitasnya.












