Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaNasionalRagam

Memeluk Hangat Keluarga dari Rumah: Kala LDII Jaktim dan Bekasi Barat Merajut “Baiti Jannati” di Era Digital

Views
×

Memeluk Hangat Keluarga dari Rumah: Kala LDII Jaktim dan Bekasi Barat Merajut “Baiti Jannati” di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Baiti Jannati Ldii

​Koma.id | Bekasi – Di tengah riuhnya arus informasi dan cepatnya perubahan zaman, rumah sering kali menjadi tempat yang paling dirindukan untuk pulang. Namun, mendirikan rumah tangga yang benar-benar menjadi oase penyejuk, sebuah Baiti Jannati, rumahku surgaku bukanlah perkara instan. Ia adalah bangunan yang harus dikokohkan fondasinya setiap hari.

​Semangat merawat fondasi itulah yang terasa kental di Masjid Sulthon Aulia, Bintara, Bekasi Barat, pada Minggu pagi (17/05).

Silakan gulirkan ke bawah

Ratusan pasang mata, mulai dari pasangan muda yang baru memulai biduk rumah tangga hingga mereka yang rambutnya telah memutih bersama, berkumpul dengan satu tujuan yakni belajar kembali menjadi keluarga yang tangguh.

​Melalui sinergi apik antara DPD LDII Jakarta Timur dan DPD LDII Bekasi Barat, ruang ibadah hari ini disulap menjadi ruang diskusi yang hangat. Sebuah talk show interaktif bertajuk “Baiti Jannati: Strong From Home, Building Happiness Until Jannah” digelar sebagai bagian dari agenda rutin Pengajian Keluarga Bahagia dua bulanan.

​Mengharmoniskan Peran, Sains, dan Jiwa membangun keluarga di era modern tidak bisa lagi sekadar mengalir tanpa arah. Sadar akan kompleksnya tantangan hari ini, penyelenggara menghadirkan tiga sudut pandang sekaligus yakni manajemen, psikologi, dan medis.

​H. Amirudin Supartono, S.Tr.Kes, MM, membuka obrolan dengan mengingatkan kembali esensi komitmen. Baginya, pernikahan modern menuntut pembagian peran yang adil dan penyelarasan paradigma antara suami dan istri.

​”Pernikahan bukan sekadar ikatan emosional sesaat, melainkan ibadah panjang yang membutuhkan perjuangan, disiplin, dan komitmen bersama untuk meraih rida Allah SWT,” tuturnya mengingatkan.

​Suasana semakin hangat saat psikolog Ibu Amarina Ariyanto, PhD, mengupas sisi psikologis keluarga. Di era digital, komunikasi sering kali menjadi barang mewah. Beliau menekankan pentingnya komunikasi produktif dan kemampuan untuk berdamai pasca-konflik. Rumah, menurutnya, harus menjadi tempat paling aman bagi kesehatan mental anak.

​Tak kalah penting, kesehatan fisik dan biologis juga mendapat porsi pembahasan. Dari kacamata medis, Dr. Lutfi Hardiyanto, PhD, Sp.And, memaparkan bagaimana keharmonisan biologis dan vitalitas pasangan suami istri menjadi pilar penunjang kesejahteraan lahir batin, sekaligus modal penting melahirkan generasi penerus yang sehat.

​Menutup rangkaian acara, H. Awang yang merupakan Panitia acara memberikan sebuah refleksi mendalam mengenai esensi dari tema “Strong From Home”. Di tengah gempuran dunia digital yang tanpa sekat, keluarga adalah filter sekaligus benteng pertahanan utama.

​”Jika keluarga kita kuat dari rumah, maka tantangan eksternal apa pun di era digital ini akan bisa dihadapi dengan baik,” ujar H. Awang optimis. “Visi utama kita jelas, saling bergandengan tangan bersama pasangan hingga ke surga.”

​Melalui narasi yang memadukan nilai luhur agama dan sains ini, para peserta tidak hanya pulang membawa catatan teori, tetapi juga formula praktis yang siap diterapkan di meja makan atau ruang keluarga mereka masing-masing. Karena pada akhirnya, kebahagiaan besar bangsa ini, selalu dimulai dari senyum yang terukir di dalam rumah.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.