KOMA.ID, JAKARTA – Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan, kembali membuat pernyataan kontroversial. Di mana sebelumnya ia menyebut bahwa Islam bukanlah agama baru, melainkan rekonstruksi dari ajaran Taurat dan Injil, kini ia menilai Rukun Islam yang dideklarasikan Nabi Muhammad terinspirasi dari tokoh pendeta Kristen.
Menurut Ken, Rukun Islam bukan sekedar rangkaian ritual ibadah, melainkan sebuah sebuah strategi deklarasi perlawanan kepada penguasa Quraish Mekkah yang saat itu zalim dan menindas rakyat.
“Sejak kecil Nabi Muhammad hidup di lingkungan yang dekat dengan tokoh-tokoh agama Kristen,” kata Ken dalam keterangannya, Kamis (21/8/2025).
Bahkan, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 12 tahun, seorang pendeta bernama Bukhaira sempat memprediksi bahwa Muhammad kelak akan jadi tokoh besar jika dididik dengan baik.
Sejak menikah hingga menerima wahyu, Nabi selalu bersama dengan dengan tokoh Kristen.
“Khadijah dan sepupunya, Waraqah Bin Naufal, merupakan pendeta Kristen yang memahami kitab suci Taurat dan Injil,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun kenabian Muhammad datang sebagai inspirasi dari Allah, akan tapi proses persiapannya tetap melibatkan manusia, termasuk para pendeta Kristen, termasuk Waraqah Bin Naufal.
“Waraqah bin Naufal disebut-sebut menjadi salah satu mentor spiritual sekaligus politik Nabi Muhammad,” tutur Ken.
Menurut Ken, ketika wahyu kepada Nabi Muhammad di usia 40 tahun, Nabi tidak bisa membaca dan menafsirkannya sendiri, lalu kemudian meninta bantuan kepada Waraqah Bin Naufal. Dari situlah, Muhammad mendapat pemahaman bahwa para nabi terdahulu seperti Musa dan Isa diutus untuk melawan kezaliman dan penindasan.
”Waraqah memberi ide kepada Muhammad bahwa jika ingin membebaskan rakyat dari penindasan Quraisy, ia harus berani bangkit melawan, dan strateginya itu ada di dalam rukun Islam,” jelasnya.
Namun, sebelum misi itu tercapai, orang-orang terdekat nabi yang menjadi pendukung utama justru satu per satu wafat, termasuk Khadijah dan pamannya yakni Abu Talib.
Dalam suasana terjepit di tengah penguasa Kaum Quraish di Makkah, Nabi kemudian melakukan perenungan spiritual mendalam yang dikenal sebagai peristiwa Isra Miraj.
“Dalam peristiwa itu, Nabi mengingat kembali nasehat para mentornya, dari situlah lahir deklarasi Rukun Islam sebagai strategi perjuangan melawan sistem yang menindas,” paparnya.
Ken lalu menafsirkan strategi Rukun Islam dari sudut pandang politik dan sosial, antara lain ; syahadat yang merupakan sumpah terbuka, deklarasi loyalitas melawan kezaliman serta pengakuan kepemimpinan baru Nabi Muhammad yang pro-rakyat.
Kemudian sholat berjamaah. Bahkan dalam bahasa modern kata Ken, shalat adalah kampanye atau sosialisasi sebagai alat komunikasi massal dan pengorganisasian masyarakat, sekaligus penghapus kasta sosial yang dilakukan 5 kali sehari.
Lantas ada pula zakat yang merupakan distribusi pajak kekayaan untuk kesejahteraan rakyat, di mana yang kaya wajib bantu yang miskin.
“Pajak dalam Islam bukan untuk memperkaya penguasa,” tegas Ken.
Selanjutnya adalah puasa, yakni sebuah sarana spiritual untuk latihan solidaritas kelas, bentuk perlawanan terhadap sitem kapitalis dengan berbagi kepada yang membutuhkan. Dan yang terakhir adalah haji, sebuah kongres akbar lintas suku dan bangsa, semua pakai baju yang sama dan menjadi simbol kesetaraan manusia yang perjuangan melawan penindasan.
Oleh sebab itu, dalam rukun Islam, jelas menyimpan sebuah strategi yang mutakhir bagaimana Islam menyatukan umatnya dalam satu visi misi keimanan yang sama.
“Harapannya agar umat beragama bersatu,” tukasnya.
Lebih lanjut, Ken menekankan bahwa ajaran para Nabi sejatinya adalah peta perjuangan untuk melawan penindasan dan memerdekaan manusia, bukan semata ritual ibadah. Jika masyarakat sadar arti sejatinya Rukun Islam tersebut, maka perdebatan tentang agama seharusnya sudah selesai, tak ada lagi kasus intoleransi atas nama agama, sebab musuh para Nabi Nabi terdahulu bukanlah perbedaan agama, tapi para penguasa yang zalim dan menindas.
“Saatnya bergandeng tangan bersama sama memperjuangkan keadilan agar kita dapat hidup sejahtera, rukun aman dan damai, meski berbeda latar belakang agama,” pungkas Ken.













