Jakarta – Dua dekade lebih berlalu, namun luka sejarah bangsa akibat penculikan 13 aktivis pada 1997–1998 dan tragedi pemerkosaan massal Mei 1998 masih belum mendapatkan keadilan. Dalam semangat solidaritas dan perlawanan terhadap lupa, Forum Alumni Partai Rakyat Demokratik (PRD) bersama sejumlah tokoh pergerakan demokrasi akan menggelar konferensi pers sebagai bentuk desakan atas penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat tersebut.
Acara ini akan digelar pada Minggu, 27 Juli 2025, pukul 10.00–12.00 WIB, bertempat di Kantor YLBHI, Jalan Diponegoro No.74, Menteng, Jakarta Pusat.
Konferensi ini juga menjadi respon keras terhadap pernyataan kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut pemerkosaan massal terhadap perempuan Tionghoa pada Mei 1998 hanya sekadar rumor. Upaya “membersihkan” catatan sejarah melalui apa yang disebutnya sebagai “buku putih” dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap fakta sejarah dan penderitaan para korban.
Sejumlah tokoh yang akan menyampaikan pernyataan sikap dalam konferensi ini di antaranya:
Ririn Sefsani, mantan aktivis PRD
Wahyu Susilo, adik korban penculikan Wiji Thukul
Zainal Muttaqin, Sekjen IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia)
Roni R, mantan aktivis PRD
Muhammad Irfan, mantan aktivis PRD
Acara akan dipandu oleh Adhe Emi sebagai moderator.
Forum ini menyerukan kepada pemerintah dan masyarakat luas agar tidak menutup mata terhadap sejarah kelam bangsa, serta terus mengawal proses hukum dan pengungkapan kebenaran demi keadilan bagi para korban.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi narahubung:
Adhe Emi (0813-1991-2668)







