Koma.id– Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut, bahkan mencapai titik kritis yang mengingatkan pada krisis moneter 1998.
Meski pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, pasar tampaknya tidak merespons optimisme tersebut.
Pada perdagangan Senin (31/3/2025) sore, berdasarkan data tradingeconomics.com, Rupiah kembali terperosok hingga menyentuh Rp16.650 per Dolar AS, melemah 0,28 persen dibandingkan hari sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini bahkan terus berlanjut saat libur Lebaran, memperburuk kekhawatiran akan stabilitas ekonomi.
Airlangga Hartarto tetap optimistis bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang solid. Ia menekankan bahwa cadangan devisa masih kuat, neraca perdagangan berada dalam kondisi baik, dan devisa hasil ekspor (DHE) kini seluruhnya disimpan di dalam negeri.
Namun, pelemahan Rupiah yang terus berlanjut menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar dan masyarakat. Apakah fundamental ekonomi Indonesia benar-benar cukup kuat untuk menahan gempuran eksternal, ataukah nilai tukar Rupiah akan terus tertekan dalam waktu dekat?







