Gulir ke bawah!
BeritaTeknologi

Gen Z Harus Mampu Tingkatkan Produksi Budaya Indonesia Melalui Konten Digital

8908
×

Gen Z Harus Mampu Tingkatkan Produksi Budaya Indonesia Melalui Konten Digital

Sebarkan artikel ini
Sebagai generasi yang dibentuk oleh teknologi digital, Gen Z memiliki tanggung jawab membuat konten warisan budaya Indonesia. (dok.ilustrasi/freepik)

Koma.id – Diketahui bahwa Generasi Z (Gen Z) lahir mulai awal 1997 hingga 2012, jumlah mereka mendominasi populasi penduduk Indonesia yaitu sebanyak 27,9 persen. Generasi yang dijuluki melek teknologi ini dibentuk oleh internet, perang, terorisme, resesi, dan media sosial.

Gen Z memang memiliki kecerdasan dan IQ tinggi di atas generasi sebelumnya. Mereka saling terhubung dan berbagi pengetahuan melalui media sosial dengan rekan-rekannya di seluruh dunia.

Silakan gulirkan ke bawah

”Gen Z selalu terhubung dalam dunia sosial, data, dan hiburan berbasis dunia maya (digital),” ungkap pemerhati telematika dan multimedia KRMT Roy Suryo dalam nobar webinar literasi digital untuk segmen pendidikan, yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali, di Kabupaten Gianyar, Rabu (5/6).

Roy mengatakan, sebagai generasi yang dibentuk oleh teknologi digital, Gen Z memiliki tanggung jawab membuat konten warisan budaya Indonesia (baik benda maupun non-benda). Dengan kemampuannya, mereka dapat membuat konten digital budaya Indonesia, lalu menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

”Kita memiliki keberagaman budaya dengan ribuan karya budaya dan ratusan warisan budaya tak benda yang beberapa di antaranya telah mendapat pengakuan UNESCO. Ada keris, seni pertunjukan wayang, musik angklung, tari Saman, batik, pembuatan kapal pinisi, pencak silat, bahkan tari tradisional Bali,” tuturnya.

Dalam diskusi virtual bertajuk ”Promosi Budaya Indonesia Lewat Konten Digital” itu, mantan Menpora ini mengajak para siswa untuk mulai membuat konten yang berisi budaya Indonesia, kemudian memviralkannya lewat media sosial. ”Hal itu dapat membantu promosi budaya, sekaligus mendapat pengakuan dunia internasional,” jelasnya.

Roy menambahkan, sumber daya manusia saat ini diharapkan memiliki kecakapan dalam bermedia digital. Yakni, cara berpikir yang kreatif, inovatif, solutif, juga berpikir kritis dan belajar membuat keputusan. ”Dengan cara berkomunikasi dan kolaborasi, maupun literasi informasi data dan TIK, mereka akan hidup sebagai warga digital yang sukses dalam karier dan bertanggung jawab,” lanjutnya di depan siswa dan pendidik sekolah yang mengikuti diskusi online dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.

Berpendapat yang sama, entrepreneur Anissa Andarini mengatakan, promosi budaya Indonesia lewat konten digital dapat membangun identitas dan kebanggaan nasional. Budaya Indonesia yang memiliki keberagaman etnis dan bahasa, mewariskan bermacam budaya seni (tari, musik, pertunjukan), hingga pakaian.

”Pentingnya promosi budaya, yakni menumbuhkan inovasi dan kreativitas, pendidikan dan pengetahuan, keberagaman dan toleransi, identitas dan warisan, keseimbangan sosial, serta ekonomi dan pariwisata,” jelas Anissa Andarini.

Sementara, Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Bali I Gede Putu Krisna Juliharta meminta para siswa untuk menjaga etika berinternet. Contohnya, dengan tidak melakukan bullying, ujaran kebencian, dan menyebar informasi palsu atau hoaks.

”Lalu, menghormati privasi orang lain, tidak menyebarkan konten yang dapat merugikan orang lain, menggunakan bahasa kasar dan menghina orang lain, melanggar hak cipta, melakukan kejahatan atau tindakan ilegal,” rinci I Gede Putu Krisna Juliharta.

Webinar yang membidik segmen pendidikan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) yang digelar Kemkominfo sejak 2017. Tahun ini, program #literasidigitalkominfo untuk mewujudkan Indonesia yang #MakinCakapDigital tersebut mulai bergulir pada Februari 2024.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.