Koma.id– Cendikiawan Muda Nahdlatul Ulama, Nur Ahmad Satria (NAS), tak memungkiri banyaknya fenomena hoaks atau berita palsu merajalela dan mengganggu tatanan informasi di masyarakat saat ini. Seperti hoaks daur ulang tentang Warga Negara Asing (WNA) asal China bisa ikut Pemilu dan peluang invansi China di Pilpres 2024.
Menurutnya, hoaks sering kali muncul karena adanya pandangan negatif terhadap siapapun yang dianggap tidak sejalan dengan pemikiran seseorang. Lebih dari itu, NAS berpendapat bahwa negara-negara adidaya seringkali seperti Amerika, kerap memanfaatkan hoaks sebagai alat untuk mengadu domba tanpa melibatkan tangan mereka sendiri, melainkan menggunakan individu atau kelompok lain untuk mencapai tujuan mereka.
Jadi besar kemungkinan ada upaya keikut sertaan mereka untuk bermain dalam pemilu untuk kepentingan politik global. Sehingga Ia mengingatkan masyarakat tidak terjebak dalam permainan.
“Mereka yang menikmati hasilnya, kita yang berantem. Jadi perlu betul-betul diantisipasi disaring apakah ini ada agenda atau tiga di balik semua hoaks,” kata NAS dalam diskusi Barisan Anak Timur (BAT) bertajuk ‘Hoaks Ancaman Serius Persatuan Bangsa di Tahun Politik’ di Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2023).
Dalam konteks hoaks, NAS juga menyebut masalah “trolling,” di mana ada individu yang senang melihat orang lain menderita dan bahkan menikmati melihat orang lain kesulitan. Ini adalah perilaku berbahaya yang mungkin menjadi penyebab maraknya hoaks.
NAS juga mengamati bahwa banyak hoaks dikirim melalui akun anonim atau palsu yang sulit dilacak. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat tentang digitalisasi, peran pemerintah, dan penegakan hukum yang tegas dalam menghadapi hoaks.
Ia juga menyoroti bahwa hoaks adalah cara paling murah dalam politik untuk menjatuhkan lawan, terutama dengan adanya mesin kecerdasan buatan. Dalam menghadapi hoaks, NAS menekankan pentingnya masyarakat untuk secara kritis memeriksa kebenaran informasi, melakukan verifikasi, dan tidak terjebak dalam provokasi.
“Antisipasi informasi itu benar atau tidak ya itu tentunya mengecek kembali. Lalu bangsa kita harus betul betul betul kritis terhadap kecendurangan tentang provokasi,” tutup NAS.







