KOMA.ID – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid meyayangkan apa yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB – OPM) yang telah melakukan pembakaran terhadap Pasar Pharaa atau Pasat Baru Sentani yang ada di Kabupaten Jayapura.
Menurutnya, aksi tersebut tidak bisa dibenarkan. Bahkan ia menilai mereka sebagai teroris murni yang bisa membahayakan masyarakat asli Papua lainnya.
Bundaran HI Rawan Jambret WNA
“Itu tindakan biadab, itu tindakan terorisme. Kalau Pasar dibakar, bagaimana ekonomi masyarakat asli Papua bisa berputar,” kata Habib Syakur kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/1).
Ia menilai bahwa aksi pembakaran pasar itu bisa membuat masyarakat lokal semakin tidak simpatik kepada mereka. Sebab, apa yang dilakukan justru merusak dan berdampak buruk langsung kepada masyarakat.
“Saya kira masyarakat lokal Papua bisa melihat secara jelas apa efek samping keberadaan OPM ini. Tidak lebih dari sekedar perusak tatanan masyarakat, itu saja,” ujarnya.
Oleh karena itu, ulama asal Jawa Timur ini mendorong agar pemerintah pusat memaksimalkan penanganan OPM ini dengan pendekatan militer. Menurutnya, tak perlu lagi perbanyak upaya soft approuch dalam melakukan pendekatan kepada para teroris itu.
“Mereka jelas teroris, mereka sudah tidak bisa diajak dialog. Atasnama keamanan dan kenyamanan warga negara Indonesia di timur sana, lakukan pendekatan militer. Selesaikan, demi kemaslahatan bangsa dan negara yang lebih luas,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, bahwa pada hari Jumat (6/1) sore lalu, pasar Pharaa atau Pasar Baru Sentani dibakar oleh anggota militer dari TPNPB-OPM, Dorompet Jelemaken. Hal ini pun dibenarkan oleh juru bicara Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM, Sebby Sambom.
“Aksi Pembakaran ini murni dilakukan oleh TPNPB Markas Pusat di bawah Pimpinan Gen Goliath Naaman Tabuni dan Komandan Operasi Mayjen Lekagak Telenggen siap bertanggung Jawab,” tulis rilisnya.
Motif dari pembakaran pasar ini adalah agar para imigran yang ada di Papua segera menghentikan aktivitas perniagaan dan keluar dari Papua. Apalagi saat ini sudah ada instruksi dari pihak TPNPB-OPM, bahwa Papua harus bersih dari imigran, setidaknya sampai 2023 akhir.
“Sesuai Sidang Darurat Militer Umum TPNPB di Markas Kodap XV Ngalum Kupel pada tanggal 29 November – 1 Desember 2022, di mana mengintruksikan orang pendatang segera tinggalkan tahun 2023 sehingga saya dan pasukan bakar pasar tersebut untuk mengusir orang Imigran Ilegal Indonesia,” sambungnya.













