Koma.id – Politik identitas yang bersumber dari paham ekstrimisme beragama juga mengancam demokrasi kita. Tidak hanya itu, tapi juga mengancam integrasi bangsa. Polarisasi yang terjadi di masyarakat itu semakin masif ketika ada kontestasi politik misalnya Pilkada DKI Jakarta.
Hal ini diungkapkan Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, dalam diskusi ‘Virus Intoleran, Radikal, Polarisasi Ancaman Persatuan’ di Hotel Bintang Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2022).
Jurnalis Republika Ditangkap Tentara Israel
“Polarisasi dalam pergulatan politik itu sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindari. Di Amerika, Inggris, Jerman, Norwegia, dan berbagai Negara namanya politik indentitas itu hadir di sana, ada,” katanya.
Ditegaskan Karyono, polarisasi politik tidak bisa dihindari, ada di sana. Bedanya adalah, kata dia, mereka bisa memaknai perbedaan. “Di sini beda, perbedaan pilihan politik, perbedaan pilihan justru menimbulkan segregasi, keretakan hubungan antara pendukung kandidat yang satu dengan kandidat yang lain,” ungkap Karyono.
“Ini terjadi terus menerus. Dalam Pildaka DKI Jakarta luar biasa, itu menjadi sorotan dunia bahkan jadi jadi salah satu penyebab indeks demokrasi Indonesia itu menurun karena terjadinya poliitk indentitas yang terus menguat,” katanya.
Pemilu 2014, kata Karyono, sangat diwarnai politik identitas bahkan hal itu berlanjut sampai pada pemilu 2019 kemarin. Hal itu, menurutnya merupakan fakta yang tak terelakan.
“Lalu kemudian pemilu 2014 juga sangat masif politik indentitas yang menimbulkan polarisasi di masyarkat, terjadi juga pada pemilu 2019 yang lalu. Itu fakta. Agama dijadikan jubah untuk kepentingan politik,” tegasnya.
“Narasi-narasi intolorenan menjelang pemilu 2024 mencuat. Saya khawatir apaka ini ada agenda pemilu atu tidak? Saya belum bisa memastikan. Ingat bebasnya Habib Rizieq Shihab misalnya, nah kira-kira ini apa yang akan terjadi,” pungkasnya.













