Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Indonesia Dikepung Ideologi Transnasional Radikal dan Liberalisme, Pakar Politik Bilang Begini

Views
×

Indonesia Dikepung Ideologi Transnasional Radikal dan Liberalisme, Pakar Politik Bilang Begini

Sebarkan artikel ini
Indonesia Dikepung Ideologi Transnasional Radikal dan Liberalisme, Pakar Politik Bilang Begini
Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. (Foto: Koma.id)

Koma.id Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, mengungkapkan saat ini bangsa Indonesia sedang dikepung banyak ideologi selain Pancasila. Ideologi tersebut yakni ideologi transnasional dan liberalisme

“Saya ingin menyampaikan bahwa saat ini, negeri ini memang dikepung ideologi. Ada dua kutub ideologi yang mengepung Pancasila yaitu ideologi transnasional di satu sisi kita dihadapkan pada ideologi radikalisme ektrimisme beragama,” kata Karyono diskusi ‘Virus Intoleran, Radikal, Polarisasi Ancaman Persatuan’ di Hotel Bintang Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2022).

Silakan gulirkan ke bawah

Ditegaskan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini, di sisi lain Indonesia dihadapkan pada ideologi liberalisme.
Jadi, menurut dia, tidak hanya ancaman terhadap ideologi Pancasila tidak hanya radikalisme ekstrimisme beragama tetapi juga ada yang tidak kalah masifnya ancaman liberalisme.

“Ancaman liberalisme itu merangksek kepada sendi-sendi kehidupan kita.
Liberalisme itu menebarkan paham kebebasan tanpa batas, kebebasan individu. Saat ini itu makin berkembang di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Karyono, Indonesia dihadapkan ideologi radikalisme eskrimisme beragama yang berkembang secara global dan paling banyak memang berada di Timur Tengah termasuk di Indonesia. Menurutnya, hal itu sebagai gerakan sebuah pandangan sempit memaknai agama akhirnya memunculkan gerakan sikap intoleransi, kekerasan yang berbasis pada fanatisme beragama.

“Bahkan paham takfiri juga juga semakin meningkat, kelompok ini tidak hanya mengkafirkan agama, kelompok yang yang berbeda tapi juga mengkafirkan saudaranya yang seiman yang memiliki keyakinan yang sama. Ini juga fakta, sampai hari ini berkembang,” katanya.

“Kita harus jujur ya mengakui bahwa di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) meulai muncul ketegasan di dalam menangani aksi-aksi kelompok radikal. Contoh yang paling konkrit misalnya, pemerintah melaui pengadilan itu membubarkan organisasai radikal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kemudian melarang symbol-simbol organisasi Front Pembela Islam (FPI),” ujarnya.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.