Koma.id | Bantul – Sebanyak 300 game hasil karya siswa Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMK Negeri 1 Sanden, Kabupaten Bantul, dipamerkan dalam ajang Pameran Konsentrasi Keahlian, Kreativitas, dan Inovasi 2026, Jumat (09/10). Kegiatan tersebut menjadi wadah unjuk kreativitas sekaligus sarana pembelajaran bagi siswa untuk mengenal dunia industri dan kewirausahaan digital.
Sebanyak 216 siswa kelas XI RPL menampilkan karya game yang dikembangkan menggunakan aplikasi Scratch 3 dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Seluruh game yang dipamerkan merupakan hasil produksi siswa sejak Juni hingga Oktober 2026.
Kepala SMKN 1 Sanden, Sutapa, mengatakan pameran tersebut tidak hanya bertujuan memamerkan hasil pembelajaran, tetapi juga menanamkan jiwa inovasi dan kewirausahaan kepada para siswa sejak dini.
“Harapannya siswa ke depan bisa menjadi programmer andal yang dibutuhkan dunia industri. Kita didik dari sekarang, jadi tidak hanya menjadi pengguna game, tetapi bisa membuat gamenya sendiri,” kata Sutapa.
Menurutnya, pihak sekolah memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan ide dan kreativitas tanpa dibatasi tema tertentu. Bahkan, sejumlah game dikembangkan menggunakan bahasa Jawa sebagai upaya menghadirkan konten yang dekat dengan budaya dan keseharian masyarakat.
“Tidak ada tema khusus, kita bebaskan anak-anak ini berkarya. Ada juga yang menggunakan bahasa Jawa karena berkolaborasi dengan mata pelajaran bahasa Jawa,” ujarnya.
Sutapa menjelaskan, pengembangan kompetensi siswa dilakukan melalui kurikulum berbasis industri dan kerja sama dengan berbagai mitra dunia usaha serta dunia industri. Langkah tersebut dilakukan agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Ia menambahkan, lulusan jurusan RPL SMKN 1 Sanden selama ini banyak direkrut perusahaan teknologi informasi, baik melalui program magang maupun sebagai karyawan.
Selain pameran game, sekolah juga menggelar pelatihan kecerdasan buatan bagi 20 guru dan kepala sekolah SMP, pelatihan Game Jam untuk 40 siswa SMP, serta pelatihan AI bagi guru dan tenaga kependidikan dari sejumlah sekolah di wilayah sekitar.
Sementara itu, salah satu siswa kelas XII RPL 2, Terifa’a, mengaku pengembangan game memberikan tantangan tersendiri, baik dari aspek desain grafis maupun penerapan teknologi AI.
“Tantangannya cukup beragam, namun senang bisa berkreasi di dunia digital, menambah wawasan, pengalaman, dan keahlian,” ujarnya.
Menurut Terifa’a, tantangan terbesar bagi pengembang game adalah menciptakan produk yang menarik, diminati masyarakat, sekaligus aman dan memiliki nilai edukatif.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat game yang menarik, banyak disukai semua orang, namun aman dan mendidik,” katanya.
Senada dengan itu, siswa RPL lainnya, Maulida Fitrah, mengaku memilih jurusan tersebut karena tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi informasi. Ia menilai pembelajaran pembuatan game menjadi pengalaman berharga untuk meningkatkan keterampilan digital yang dibutuhkan dunia kerja.
Seluruh game yang dipamerkan telah melewati proses riset dan pengembangan untuk memastikan karya yang dihasilkan memiliki nilai guna, edukatif, dan relevan dengan kebutuhan pengguna.
Melalui kegiatan tersebut, SMKN 1 Sanden menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya siap bekerja di industri teknologi, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha melalui inovasi digital dan pengembangan startup berbasis teknologi.









