Koma.id | Pandeglang – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan orang yang hilang bersama speedboat Arupadhatu 1 di Perairan Selat Sunda resmi dihentikan pada Kamis (18/09) setelah berlangsung selama 10 hari tanpa hasil.
Keputusan penghentian operasi diambil setelah Tim SAR Gabungan menyelesaikan masa pencarian selama tujuh hari sesuai standar operasional prosedur (SOP) Basarnas dan memperpanjang operasi selama tiga hari. Hingga hari terakhir pencarian, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun kapal yang ditumpangi.
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, mengatakan penghentian operasi dilakukan setelah seluruh upaya pencarian tidak membuahkan hasil.
“SOP kami tujuh hari. Setelah itu ada permintaan perpanjangan tiga hari dan itu tidak ada tanda-tanda korban untuk ditemukan, operasi SAR kami hentikan,” kata Amrad di Posko SAR Carita, Kabupaten Pandeglang.
Selama operasi berlangsung, tim SAR gabungan melakukan penyisiran di berbagai wilayah yang diperkirakan menjadi area pergeseran kapal maupun korban berdasarkan hasil pemetaan SAR. Pencarian diperluas hingga sejumlah perairan di Banten, Lampung, Bengkulu, dan kawasan Pulau Enggano.
Menurut Amrad, berbagai pulau dan jalur pelayaran yang masuk dalam area pencarian telah disisir secara menyeluruh.
“Pulau-pulau itu semua sudah kami lalui dan kami sudah sapu,” ujarnya.
Pencarian juga melibatkan penyisiran laut, pantai, dan pemantauan udara. Selain itu, Basarnas menyebarkan informasi melalui sistem e-broadcast kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda serta berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS), TNI AL, dan Polairud.
Meski menerima sejumlah informasi dari masyarakat terkait dugaan keberadaan korban, seluruh laporan yang ditindaklanjuti tim SAR tidak menghasilkan petunjuk baru.
Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan sebanyak 13 objek sempat ditemukan selama operasi pencarian. Namun setelah dilakukan pemeriksaan oleh Ditpolairud Polda Banten, seluruh temuan tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan speedboat Arupadhatu 1.
“Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” kata Andra.
Ia menjelaskan operasi pencarian melibatkan 523 personel gabungan dengan cakupan area pencarian mencapai 8.509 nautical mile persegi yang meliputi sektor darat, laut, dan udara.
Meski operasi SAR resmi ditutup, pemerintah daerah bersama Basarnas memastikan pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan petunjuk baru atau laporan valid dari masyarakat.
Andra menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut, sekaligus menyampaikan keprihatinan mendalam atas belum ditemukannya para korban.









