Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaEkonomiNasional

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Prospek Masih Dibayangi Tekanan Global

×

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Prospek Masih Dibayangi Tekanan Global

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah dengan ditutup di level Rp 17.597 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (15/05). Pelemahan ini diperkirakan masih berlanjut hingga akhir Mei, didorong oleh sentimen global yang belum mereda.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS bulan ini.

Silakan gulirkan ke bawah

“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus. Seandainya Rp 18.000 tembus, ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp 22.000,” ujarnya, Sabtu (16/05).

Pelemahan rupiah dipengaruhi pergantian kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh yang diprediksi mempertahankan suku bunga tinggi. Kebijakan ini memperkuat indeks dolar di tengah kenaikan harga minyak.

Selain itu, pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping juga menambah ketidakpastian. China disebut tetap membeli minyak dari Iran dan menawarkan diri menyelesaikan konflik AS–Iran, yang berimbas pada penguatan dolar dan pelemahan rupiah.

Dari sisi internal, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar internasional selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus. Langkah ini dilakukan untuk menahan tekanan eksternal yang besar.

“Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional,” kata Ibrahim.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menilai pelemahan rupiah menjadi perhatian serius dunia usaha.

“Tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low,” ujarnya.

Menurut Shinta, kenaikan yield US Treasury dan eskalasi geopolitik mendorong arus dana keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini berpotensi berlanjut selama faktor global belum mereda.

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga bahan baku impor yang mencapai 70% kebutuhan industri. Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebut biaya produksi semakin mahal, sehingga produsen terpaksa menaikkan harga atau mengurangi porsi produk.

Fenomena ini sudah dirasakan perajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Joko Wiyatno di Semarang dan Sururi di Makassar mengaku terpaksa memperkecil ukuran produk karena harga kedelai impor menembus Rp 11.000 per kilogram.

Kajian NEXT Indonesia Center menemukan harga kedelai domestik tetap tinggi meski harga internasional turun, karena akses impor dikuasai segelintir pelaku besar. Dosen UGM Hani Perwitasari menambahkan, fenomena asimetri harga ini terjadi hampir di semua impor pangan.

Dengan tekanan global yang belum mereda, prospek rupiah ke depan masih dibayangi risiko pelemahan lebih lanjut. Dunia usaha dan masyarakat kini bersiap menghadapi biaya hidup yang semakin mahal akibat lonjakan harga bahan baku impor.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.