Koma.id – PDI Perjuangan (PDIP) menilai tingginya elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dalam survei terbaru belum dapat dijadikan gambaran mengenai peta persaingan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan hasil survei pada dasarnya hanya menggambarkan kondisi politik pada saat survei dilakukan. Sementara itu, pelaksanaan Pilpres 2029 masih sekitar tiga tahun lagi.
“Survei kan potret hari ini, pilpres masih tiga tahun lagi,” kata Andreas dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Haris Moti: Tuntutan Aksi 27 Agustus Sejalan dengan Kebijakan Prabowo, Waspadai Provokasi
Pernyataan Andreas merespons hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan Prabowo sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi calon presiden apabila pemilihan dilakukan saat ini.
Meski demikian, Andreas meminta hasil tersebut tidak ditafsirkan sebagai gambaran pasti mengenai siapa yang akan unggul dalam Pilpres 2029. Menurutnya, dinamika politik masih sangat mungkin berubah sebelum tahapan pemilu berlangsung.
Andreas juga enggan berspekulasi mengenai kemungkinan Prabowo kembali maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2029.
Menurut dia, keputusan mengenai apakah Prabowo akan kembali mencalonkan diri merupakan kewenangan dan keputusan Prabowo sendiri.
“Soal lanjut atau tidak, Pak Prabowo yang paling tahu. Saya tidak mampu meramal. Soal ramal-meramal politik wilayahnya pengamat,” ujar Andreas.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan Prabowo memang masih berada di posisi teratas dalam simulasi terbuka. Namun, menurutnya, posisi tersebut belum menunjukkan keunggulan yang terlalu jauh dibandingkan nama-nama lain.
“Dalam simulasi terbuka, dengan responden bebas menjawab tanpa intervensi, nama Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas, meskipun memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain,” kata Dedi dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peta elektabilitas menuju Pilpres 2029 masih sangat dinamis. Berbagai faktor, termasuk kinerja pemerintahan, kondisi ekonomi, kebijakan politik, serta munculnya kandidat baru, masih berpotensi memengaruhi pilihan masyarakat.
PDIP pun menilai terlalu dini untuk menjadikan hasil survei saat ini sebagai patokan untuk memprediksi hasil Pilpres 2029.








