Koma.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat untuk menghadapi berbagai dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Airlangga, ketahanan tersebut ditopang oleh disiplin fiskal, status investment grade yang masih dipertahankan Indonesia, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Airlangga mengatakan Indonesia hingga kini masih mempertahankan peringkat investment grade dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional, termasuk S&P Global Ratings, Fitch Ratings, dan Moody’s.
“Fundamental ekonomi Indonesia tetap solid,” ujar Airlangga, dikutip Rabu (12/8/2026).
Peringkat tersebut, menurut Airlangga, menjadi salah satu indikator bahwa kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia masih mendapat pengakuan dari komunitas internasional.
S&P Global Ratings pada Juli 2026 kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. S&P menilai peringkat Indonesia antara lain ditopang prospek pertumbuhan yang kuat, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta beban utang pemerintah yang relatif ringan dibandingkan negara-negara sekelasnya.
Sementara itu, Fitch Ratings pada Maret 2026 juga mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB atau kategori investment grade, meskipun outlook yang diberikan berubah dari stabil menjadi negatif.
Airlangga menilai keberlanjutan status investment grade tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional ketika kondisi perekonomian dunia masih menghadapi berbagai tekanan.
Selain peringkat kredit, Airlangga juga menyoroti instrumen pembiayaan pemerintah melalui Panda Bond Indonesia yang disebut memperoleh peringkat Triple A. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kredibilitas instrumen keuangan Indonesia tetap mendapat pengakuan dan memiliki daya tarik bagi investor internasional.
Ketahanan fundamental ekonomi juga sebelumnya disampaikan Airlangga dengan merujuk sejumlah indikator domestik. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi domestik, serta struktur pembiayaan dalam negeri masih menjadi penopang perekonomian Indonesia.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga terus berupaya menjaga disiplin fiskal. Airlangga sebelumnya menyebut Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi di sekitar 5 persen sekaligus menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurut Airlangga, berbagai indikator tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menghadapi perubahan kondisi ekonomi global, termasuk tekanan geopolitik, volatilitas harga komoditas, dan perubahan kondisi keuangan dunia.
Pemerintah, lanjut dia, akan terus memperkuat kebijakan ekonomi dan menjaga kepercayaan pasar agar fundamental ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.








