Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Berita

Menag Nasaruddin Umar: Ekonomi Saja Tak Cukup, Ketahanan Indonesia Butuh Kekuatan Spiritual

×

Menag Nasaruddin Umar: Ekonomi Saja Tak Cukup, Ketahanan Indonesia Butuh Kekuatan Spiritual

Sebarkan artikel ini
Nasaruddin Umar Koma
Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

KOMA.ID, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi bukan satu-satunya ukuran ketahanan sebuah bangsa. Menurutnya, Indonesia juga membutuhkan fondasi spiritual, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama untuk menghadapi berbagai gejolak global.

Nasaruddin mengatakan kondisi Indonesia yang relatif mampu bertahan di tengah berbagai krisis global merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Namun, capaian tersebut harus diiringi dengan upaya menjaga harmoni sosial dan memperkuat kehidupan spiritual masyarakat.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kita sangat memerlukan doa berjamaah untuk keselamatan bangsa kita. Di negara-negara lain, masyarakat dunia mengakui bahwa Indonesia memiliki ketahanan yang sangat baik sehingga tidak terdampak jauh dari krisis yang saat ini melanda dunia. Ini adalah hal yang wajib kita syukuri bersama atas izin Allah SWT,” ujar Nasaruddin saat menghadiri Doa Keselamatan Bangsa, Zikir Kebangsaan, dan Haul Pendiri NKRI dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Menurut dia, kemampuan Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen di tengah negara-negara G20 menjadi salah satu hal yang layak diapresiasi. Meski demikian, ketahanan nasional tidak boleh hanya dilihat dari indikator ekonomi maupun kekuatan fisik.

Nasaruddin menilai rasa syukur, kebersamaan, persatuan, serta kehidupan beragama yang harmonis merupakan modal sosial yang tidak kalah penting.

“Ketahanan nasional tidak hanya diukur dari indikator ekonomi dan fisik semata, melainkan dari kedalaman rasa syukur, kebersamaan, dan spiritualitas warga negaranya,” kata Nasaruddin.

Ia kemudian menyinggung Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai salah satu simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Menurut Nasaruddin, keberadaan dua rumah ibadah yang berdampingan dan terhubung melalui terowongan tersebut menjadi gambaran mengenai semangat toleransi yang ingin ditunjukkan Indonesia kepada dunia.

“Yang paling terkenal di sini adalah Terowongan Silaturahim yang menghubungkan dua rumah ibadah, satu-satunya di dunia. Setiap kali ada tamu negara, kunjungan pertama yang dikunjungi sesudah Istana Negara adalah simbol harmoni ini. Ini membuktikan bahwa Indonesia adalah rujukan dunia dalam toleransi dan kerukunan,” tegasnya.

Bagi Nasaruddin, kerukunan antarumat beragama bukan sekadar persoalan kehidupan sosial, tetapi juga bagian dari kekuatan bangsa. Keharmonisan masyarakat dinilai dapat menjadi fondasi untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah perubahan situasi global.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 RI menurutnya harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat persatuan sekaligus merawat toleransi.

Nasaruddin mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar lahir dan batin secara bersamaan. Pembangunan ekonomi dan kekuatan fisik, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan doa, spiritualitas, serta kepedulian sosial.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat toleransi, memperkuat sinergi sosial, serta menguatkan ikhtiar batin agar bangsa Indonesia selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman,” pungkas Nasaruddin.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.