Koma.id | Jakarta – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin, menegaskan bahwa figur Ketua Umum PBNU mendatang harus memiliki kapasitas memperbaiki dan mendamaikan kekuatan internal organisasi. Hal ini disampaikan jelang Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Menurut Ma’ruf, pemimpin NU ke depan harus mampu melakukan al-ishlah wal ishlah (perbaikan dan mendamaikan).
“Yang penting dia punya kemampuan melakukan perbaikan, mendamaikan kekuatan, mengembalikan pada jalurnya. Kalau tidak punya kemampuan, tidak akan membawa perbaikan pada NU,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (08/08).
Ia menekankan bahwa kepemimpinan NU harus mendahulukan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. “Itu baru misi NU bisa diemban,” tambahnya.
Sejumlah tokoh yang disebut-sebut masuk bursa calon Ketua Umum PBNU hadir dalam peluncuran buku karya Ma’ruf Amin berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Rabu 05 Agustus 2026.
TNI AL Temukan Pelampung di Selat Sunda, Belum Bisa Dipastikan Milik Jurnalis yang Hilang
Tokoh yang hadir antara lain:
- KH Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU petahana)
- KH Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI)
- KH Abdul Hakim Mahfudz (Ketua PWNU Jawa Timur)
- KH Marsudi Syuhud (Wakil Ketua Umum MUI)
- KH Muhammad Yusuf Chudlori (Pengasuh Ponpes API Tegalrejo)
- KH Imam Jazuli (Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon)
Kehadiran para kandidat potensial ini dinilai sebagai momentum penting menjelang Muktamar, sekaligus mempertemukan gagasan besar Ma’ruf Amin tentang arah gerak NU di abad kedua.
Ma’ruf mengingatkan agar NU tidak dipandang sekadar organisasi administratif, melainkan sistem keumatan yang hidup.
“NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat, tanpa taujihat,” tegasnya.
Buku yang diluncurkan merangkum pemikiran Ma’ruf selama lebih dari lima dekade berkiprah di NU, menekankan tiga fungsi utama gerakan Nahdhiyyah: Himāyah (menjaga), Iṣlāḥ (memperbaiki), dan Taqwiyah (menguatkan), yang diterapkan di bidang keagamaan, kebangsaan, dan ekonomi.
Dengan tensi politik organisasi yang semakin terasa, Muktamar ke-35 NU dipastikan menjadi ajang penentuan figur yang akan membawa NU tetap berada pada khittah perjuangan dan menjawab tantangan zaman.









