Koma.id– Wakil Direktur Imparsial, Hussein Ahmad, mengkritik keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pengamanan kilang minyak Pertamina. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk penormalan penyimpangan peran militer dari fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara.
Jadi penugasan TNI di objek vital yang bersifat sipil berpotensi melemahkan profesionalisme prajurit dalam mempersiapkan diri menghadapi ancaman perang. Menurutnya, prioritas TNI seharusnya tertuju pada penguatan kesiapan tempur dan antisipasi ancaman eksternal, bukan pada aktivitas pengamanan yang sejatinya dapat ditangani institusi sipil.
Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Jakarta Selatan hingga Kota Bogor Berpotensi Diguyur Hujan Ringan
Ia menambahkan, semakin sering militer masuk dalam urusan sipil, semakin kuat pula persepsi publik bahwa pengaruh TNI meluas ke sektor-sektor yang mestinya berada di bawah kendali otoritas sipil. Kondisi ini, menurutnya, dapat mengaburkan batas antara fungsi pertahanan dan administrasi sipil yang menjadi fondasi tata kelola demokratis.








