Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaEkonomiNasional

Rupiah Berpotensi Melemah Dipicu Konflik Timur Tengah dan Tekanan Global

×

Rupiah Berpotensi Melemah Dipicu Konflik Timur Tengah dan Tekanan Global

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Komaid | Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10).

Ketidakpastian global yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah dan potensi kenaikan harga minyak dunia menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Silakan gulirkan ke bawah

Meski demikian, rupiah sebelumnya berhasil mencatat penguatan tipis. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,09 persen ke level Rp17.899 per dolar AS pada Jumat 9 Oktober 2026. Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat 0,03 persen menjadi Rp17.884 per dolar AS.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan peluang penguatan rupiah masih terbuka setelah melemahnya dolar AS akibat penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, arah pergerakan rupiah tetap dibayangi sejumlah faktor eksternal dan domestik yang berpotensi menekan pasar keuangan.

Menurut Sutopo, data ketenagakerjaan AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar mengurangi peluang kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed). Tercatat, penambahan payroll hanya mencapai 29.000, jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 84.000.

Namun demikian, pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed masih menjadi perhatian investor. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan moneter AS dalam beberapa waktu ke depan.

Selain faktor suku bunga AS, pergerakan harga minyak dunia turut menjadi sorotan. Serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi pada akhir pekan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global yang dapat memicu kenaikan harga minyak.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatkan tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah. Situasi tersebut dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi pergerakan rupiah.

Di sisi lain, pelemahan euro akibat tekanan pada pasar obligasi Prancis turut menopang indeks dolar AS. Penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama berpotensi membatasi ruang apresiasi rupiah.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati kemampuan pemerintah dalam mengelola subsidi energi dan belanja negara, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Sutopo menilai Bank Indonesia saat ini lebih mengandalkan instrumen berbasis pasar untuk menjaga kestabilan rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.

Perdagangan awal pekan juga berlangsung bertepatan dengan libur Columbus Day di Amerika Serikat. Kondisi tersebut diperkirakan mengurangi aktivitas di pasar obligasi AS dan membuat likuiditas pasar global lebih terbatas, sehingga dapat memicu pergerakan mata uang yang lebih fluktuatif.

Untuk perdagangan hari ini Senin (12/10), rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Sementara dalam skenario dasar, mata uang Indonesia diperkirakan berada di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.930 per dolar AS.

Apabila tekanan dari kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS semakin besar, rupiah berpotensi menguji level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sebaliknya, jika imbal hasil obligasi AS kembali melemah, peluang penguatan rupiah secara terbatas masih terbuka.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.