Koma.id | Jakarta – Di tengah pelemahan tajam pasar saham, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap menyatakan optimisme bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menembus level 9.000 pada akhir tahun 2025. Bahkan, ia memproyeksikan IHSG bisa mencapai 35.000 pada tahun 2035, berdasarkan analisis siklus bisnis historis Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat IHSG ditutup melemah 2,57% atau turun 209,10 poin ke level 7.915,66 pada perdagangan Jumat (17/10). Penurunan indeks terjadi di tengah tekanan global dan aksi ambil untung investor terhadap saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menguat signifikan.
“Kalau indeksnya naik terus, dia rugi, nggak bisa trading. Yang bagus adalah di tengahnya, mereka bisa ambil untung,” ujar Purbaya di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa fluktuasi pasar merupakan hal wajar dan diperlukan agar investor bisa memperoleh keuntungan. Menurutnya, pola pergerakan IHSG cenderung stabil dua pekan, turun dua pekan berikutnya, lalu kembali naik.
Purbaya menilai, pelemahan IHSG saat ini tidak lepas dari faktor eksternal seperti ketegangan perang dagang AS-China, ancaman shutdown pemerintahan AS, serta sentimen negatif dari sektor perbankan global. Di dalam negeri, rencana otoritas mengenai ketentuan free float baru dan penindakan terhadap praktik penggorengan saham turut mendorong aksi profit taking.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa perbaikan fundamental ekonomi yang dilakukan pemerintah akan menjadi penopang utama kepercayaan pasar. Ia menyebut, pertumbuhan perusahaan dan profitabilitas akan mendorong nilai saham naik seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi nasional.
“Yang jelas gini, akhir tahun bisa 9.000. Nggak terlalu sulit. Setelah mereka tahu program yang saya jalankan betul-betul dijalankan dengan benar,” tegasnya.
Dalam wawancara sebelumnya, Purbaya mengungkapkan bahwa siklus bisnis Indonesia menunjukkan pola kenaikan IHSG setiap 7–10 tahun. Ia merujuk pada data historis, di mana IHSG naik dari level 300-an pada 2001 menjadi 2.500 pada 2008, lalu mencapai 6.500 pada 2018.
Sementara itu, data perdagangan Jumat menunjukkan mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 617 saham turun, 204 stagnan, dan hanya 135 saham yang menguat. Nilai transaksi mencapai Rp27,95 triliun dengan volume 39,2 miliar saham dalam 2,66 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar tercatat turun menjadi Rp14.746 triliun, dengan dana Rp814 triliun menguap dari pasar sepanjang pekan ini. Sektor energi dan utilitas menjadi penekan utama indeks, masing-masing anjlok 6,71% dan 5,51%.
Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi beban terberat IHSG dengan kontribusi negatif 60,99 poin, disusul emiten milik Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, CUAN, dan CDIA yang turut menyeret indeks.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut, sentimen pasar masih dipengaruhi kekhawatiran global, namun bisa mereda jika tidak ada eskalasi lanjutan. Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini diharapkan dapat menurunkan tensi dagang.








