Koma.id – Kenaikan harga bahan baku plastik mulai berdampak langsung pada harga minyak goreng kemasan premium di pasaran. Di sejumlah ritel kawasan Parung Panjang, harga minyak goreng premium ukuran 2 liter kini berada di kisaran Rp42.900 hingga Rp47.000, sementara ukuran 1 liter dijual sekitar Rp21.600 sampai Rp23.100.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, tren kenaikan harga minyak goreng sawit kemasan premium memang terjadi, meski relatif tipis. Sementara itu, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan terbatas, dan produk Minyakita justru tercatat sedikit mengalami penurunan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kenaikan harga tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan minyak goreng. “Faktor utama pemicu adalah meningkatnya harga bahan kemasan plastik,” ujarnya, dikutip Selasa (28/4/2026).
Siap-Siap Outsourcing Masuk Era Digital
Pemerintah pun berupaya mengatasi persoalan dari sisi hulu. Salah satunya dengan mempercepat impor bahan baku nafta dari berbagai negara guna menjaga keberlanjutan produksi plastik dan memastikan pasokan tetap stabil di dalam negeri.
Dari sisi industri, lonjakan harga plastik dinilai menjadi beban utama yang tidak hanya berdampak pada minyak goreng, tetapi juga berpotensi memengaruhi berbagai komoditas lain yang menggunakan kemasan serupa.
Sampah Rumah Tangga Disulap Jadi Cuan, Ibu-Ibu Karawang dan Meulaboh Ciptakan Produk Bernilai
Pelaku usaha ritel mengakui kenaikan harga mulai terasa di lapangan, meski belum terjadi secara merata. Selain itu, pasokan sempat mengalami penyesuaian akibat meningkatnya biaya produksi.
Secara keseluruhan, pemerintah memastikan stok minyak goreng nasional masih dalam kondisi aman. Distribusi juga terus berjalan, termasuk melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) untuk menjaga ketersediaan di pasar.
Namun demikian, kalangan ekonom menilai kenaikan biaya plastik, logistik, serta bahan baku seperti crude palm oil (CPO) dapat mendorong konsumen beralih ke produk yang lebih terjangkau seperti Minyakita. Meski begitu, pergeseran ini diperkirakan tidak terlalu signifikan karena perbedaan segmen pasar.
Sebagai langkah antisipasi, alternatif distribusi seperti minyak goreng curah juga mulai didorong untuk menekan biaya sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.














