Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Catat! Virus Radikalisme Tidak Ada Batasan Profesi, Pendididikan Tinggi Juga Rentan Terpapar

×

Catat! Virus Radikalisme Tidak Ada Batasan Profesi, Pendididikan Tinggi Juga Rentan Terpapar

Sebarkan artikel ini
stanislaus riyanta
Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta. (Foto: Koma.id)

Koma.id – Radikalisme tidak ada batasan profesi, pendidikan, ekonomi. Ada yang levelnya sudah eselon dua dan dari BUMN bergabung ke Suriah. Ada yang pendidikannya S1 dari pendidikan kedinasan begabung juga. Jadi itu tidak mengenal eknomi, profesi, pendidikan.

Hal ini diungkapkan Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta dalam diskusi ‘Virus Intoleran, Radikal, Polarisasi Ancaman Persatuan’ di Hotel Bintang Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (3/8/2022).

Silakan gulirkan ke bawah

“Bahkan ISIS yang identik dengan simbol-simbol muslim itu behasil merebut kampus. Jadi ini lintas agama, profesi,” katanya.

Dia menjelaskan, paparan virus radikalisme bisa menghendaki siapa spun jika ideologi itu sendiri tidak mampu menangkalnya.

“Ini terjadi pada siapa saja. Kita juga sangat mudah sekali terpapar apalagi kali ideologi tidak kuat. Yang paling penting sekarang adalah bagimana kita menguatkan ideologi. Kalau ideologi kita kuat, kita tak akan pengaruh, mau kanan, kiri atau atas, bawa, selama Pancasila kita kuat kita tak akan terpancing seperti itu,” ungkapnya.

Stanislaus juga megimbau untuk melakukan instropeksi mengapa banyak orang tertarik dan minat untuk memperjuangan ideologi lain selain Pancasila.

“Ini yang harusnya menjadi introspeksi kita, kenapa sekarang banyak orang tertarik dengan ideologi lain. Kenapa dia mudah berpaling dari Pancasila? Jangan-jangan doktrin Pancasila tidak berhasil?,” tanya Stanislaus.

“Atau jangan-jangan Pancasila tidak menarik untuk setiap orang? Kalau masalah ini berarti kan kita harus lebih menguatkan Pancasila, ada BPIP, Pendidikan Pancasila harus lakukan dengan cara-cara kekinian bukan doktrinasi Pancasila pada anak milenial tapi dengan cara-cara kolonial,” pungkasya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.