Koma.id | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada potensi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar dari magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu 15 Agustus 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan, secara ilmiah sesar aktif membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali mengakumulasi energi hingga memicu gempa besar.
“Diperlukan waktu panjang, hingga puluhan tahun, agar sesar naik di busur belakang Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang ada sekarang ini,” kata Faisal di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/08).
BMKG mencatat hingga pukul 17.00 WIB, Rabu (19/8), terjadi 3.055 gempa susulan dengan magnitudo terbesar M 6,2 dan terkecil M 1,1. Dari jumlah itu, 88 gempa susulan dirasakan masyarakat. Faisal menambahkan, peluruhan aktivitas gempa diperkirakan berlangsung dalam 3–4 minggu ke depan.
Haris Moti: Tuntutan Aksi 27 Agustus Sejalan dengan Kebijakan Prabowo, Waspadai Provokasi
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyebut gempa susulan masih akan terjadi hingga 30 hari ke depan, namun intensitasnya menurun bertahap.
“Kira-kira dalam waktu 21 sampai 30 hari ke depan akan segera meluruh,” ujarnya.
BMKG menjelaskan sebaran gempa susulan terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat, terkait dengan zona tektonik setempat. Hingga Rabu siang, tercatat 3.002 gempa susulan dengan magnitudo 1,1–6,2, termasuk 25 kejadian dengan magnitudo 5 atau lebih.
Sejumlah bangunan dan fasilitas publik dilaporkan rusak akibat gempa utama M 7,7. BMKG bersama instansi terkait masih melakukan evaluasi untuk membedakan kerusakan non-struktural dengan yang berpotensi mengganggu keamanan bangunan.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang tetapi harus terus waspada terhadap kemungkinan gempa susulan,” kata Nelly.









