Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalOpini

Bank Indonesia soal Dedolarisasi Ditengah Memanasnya Geopolitik Global: Relevansi dan Kenyataannya

×

Bank Indonesia soal Dedolarisasi Ditengah Memanasnya Geopolitik Global: Relevansi dan Kenyataannya

Sebarkan artikel ini
achmad nur hidayat
Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat

Oleh; Achmad Nur Hidayat MPP
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Universitas Veteran Jakarta dan CEO Narasi Institute

Koma.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo blak-blakan Indonesia katanya sudah meninggalkan dolar.

Silakan gulirkan ke bawah

Dirinya mengakui bahwa saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang sudah mulai untuk meninggalkan dolar Amerika Serikat (AS) atau dedolarisasi.

Perry menjelaskan dalam konferensi pers selasa lalu (18/4), transaksi dengan negara mitra dagang dan investasi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) merupakan salah satu upaya Indonesia dalam melakukan dedolarisasi.

Indonesia kan sudah mulai menggagas diversifikasi penggunaan mata uang, yaitu dalam bentuk LCT itu adalah yang BI sebut sebagai diversifikasi, kata Gubernur Perry.

Relevansi Dedolarisasi

Indonesia melalui Bank Indonesia dan kementerian Keuangan telah lama mempertimbangkan untuk melakukan dedolarisasi, yaitu mengganti penggunaan dolar Amerika Serikat sebagai pengganti mata uang Rupiah dalam transaksi komersial antara perusahaan domestik dan mata uang antar negara lokal dalam perdagangan bilateral Internasional.

Kampanye dedolariasi ditempuh pemerintah Indonesia untuk menjaga keseimbangan ditengah melemahnya peran keuangan AS di pasar global.

Tujuan dari dedolarisasi adalah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar dan memperkuat penggunaan Rupiah di pasar domestik dan pasar bilateral perdagangan internasional.

Kenyataannya, Dedolarisasi Bagi Indonesia adalah Tujuan Jangka Panjang Bukan Jangka Pendek

Hingga saat ini 2023, dedolarisasi belum sepenuhnya dilakukan. Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk mendorong penggunaan Rupiah, seperti memperkuat infrastruktur pasar keuangan domestik seperti Bursa Efek Indonesia dan Pasar Uang Indonesia, dan membatasi penggunaan dolar dalam transaksi komersial dengan regulasi yang ketat.

Meskipun demikian, upaya-upaya pemerintah untuk mendorong dedolarisasi belum berhasil sepenuhnya, karena masih banyak perusahaan yang lebih memilih menggunakan dolar untuk transaksi mereka.

Beberapa faktor yang menjadi hambatan dedolarisasi di Indonesia antara lain kurangnya keyakinan dari pelaku usaha dalam kemampuan Rupiah sebagai alat pembayaran, serta kurangnya likuiditas dari pasar keuangan domestik.

Sejauh ini, pemerintah Indonesia tetap memperjuangkan dedolarisasi sebagai tujuan jangka panjang, meskipun dengan pendekatan bertahap dan tidak terburu-buru.

Pemerintah juga berupaya untuk meningkatkan kepercayaan pelaku bisnis terhadap penggunaan Rupiah, melalui peningkatan stabilitas ekonomi dan kelembagaan pasar keuangan domestik yang lebih kuat.

END

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.