Koma.id – Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menduga adanya operasi politik dan pihak yang disebutnya sebagai penumpang gelap di balik kembali mencuatnya polemik dugaan ijazah palsu yang menyeret dirinya dan putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik dan penumpang gelap yang menunggangi lagi. Jadi menjadi ramai,” ujar Jokowi, Jumat (16/10/2026).
Menurut Jokowi, polemik yang kembali berkembang tersebut diduga berkaitan dengan manuver politik yang menyasar dirinya dan Gibran. Ia juga menilai persoalan itu berpotensi mengalihkan perhatian publik dari berbagai agenda strategis bangsa.
Jokowi menduga hal tersebut memiliki motif untuk merusak atau menurunkan reputasi politik dirinya maupun Gibran. Namun, dugaan mengenai adanya operasi politik tersebut merupakan pernyataan Jokowi yang belum disertai bukti pendukung dalam keterangan tersebut.
Polemik dokumen pendidikan Gibran kembali menjadi perhatian seiring munculnya wacana penggunaan hak angket oleh sejumlah fraksi di DPR. Usulan tersebut diarahkan untuk mengklarifikasi secara menyeluruh dan transparan pemenuhan persyaratan administratif Gibran saat mendaftar sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.
Menanggapi wacana hak angket, Jokowi sebelumnya menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan hak konstitusional partai politik yang memiliki perwakilan di DPR.
“Ya itu hak konstitusional dari semua partai yang ada di DPR,” kata Jokowi.








