NTT – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Nusa Tenggara Timur Densus 88 Anti Teror Polri tengah mempersiapkan agenda strategis sebagai langkah preventif dalam rangka pencegahan intoleransi radikalisme dan ekstrimisme terorisme (IRET).
Pada awal November mendatang, Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri dijadwalkan akan menggelar acara nonton bareng (nobar) yang dirangkaikan dengan diskusi interaktif mengenai film bertema toleransi dengan judul “Ageman”.
HUT ke-81 TNI, Imparsial Soroti Prajurit Makin Banyak di Ruang Sipil dan Masalah Peradilan Militer
Langkah ini diambil sebagai bentuk pendekatan lunak (soft approach) dalam mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama serta bahaya penyebaran ideologi radikal ekstrem kanan maupun kiri.
Kepala Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Sri Astuti Ningsih menyatakan bahwa film “Ageman” dipilih karena memiliki pesan mendalam tentang esensi beragama yang inklusif dan harmonis.
Secara harfiah, judul “Ageman” yang diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali bermakna pakaian, identitas, pedoman, atau sistem keyakinan yang berlaku pada suatu peradaban.
Ageman atau agama adalah kompas moral dan pedoman perilaku masyarakat pada zamannya untuk membedakan apa yang baik dan apa yang buruk, serta bagaimana manusia berhubungan dengan sesama, alam dan Sang Pencipta.
Filosofi tersebut diterjemahkan sebagai ikhtiar bahwa identitas suku, ras, budaya, maupun agama adalah hal yang melekat untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan alasan untuk membenci.
Film ini terinspirasi dari potret nyata transformasi hidup Ken Setiawan, seorang mantan aktivis gerakan radikal yang kini mengabdikan hidupnya untuk menyuarakan moderasi beragama dan pencegahan intoleransi radikalisme dan terorisme.
“Melalui transformasi hidup Ken Setiawan, film ini diharapkan mampu menjadi cermin jernih yang memberikan pemahaman mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat,”
Lewat film bertajuk “Ageman”, penonton diajak menyelami lorong-lorong kelam radikalisme, luka intoleransi, perundungan (bullying), hingga pentingnya memahami esensi beragama di tengah keberagaman Indonesia.
Film ini diharapkan mampu menjadi pemantik dialog yang sehat di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat benteng pertahanan wilayah NTT yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia.
Acara yang direncanakan berlangsung bulan depan ini akan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari Forkopimda, tokoh lintas agama, akademisi, organisasi kepemudaan, mahasiswa, hingga pelajar.
Kehadiran berbagai pihak ini diharapkan dapat melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif dalam menjaga kedamaian dan menangkal infiltrasi paham radikal di bumi Flobamora.
Diskusi pasca-pemutaran film nantinya akan mengupas tuntas relevansi pesan film “Ageman” dengan situasi geopolitik dan sosial lokal.
Melalui kegiatan ini, Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh lapisan masyarakat demi mewujudkan NTT yang aman, damai, dan bebas dari ancaman radikalisme dan terorisme.














