Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Fernando Emas Apresiasi Doktrin Kapolri Baru: Rakyat Butuh Polisi yang Hadir Saat Dibutuhkan

×

Fernando Emas Apresiasi Doktrin Kapolri Baru: Rakyat Butuh Polisi yang Hadir Saat Dibutuhkan

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas
Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas

Koma.id, JAKARTA — Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, mengapresiasi gagasan “Polisi Bersama Masyarakat” yang diusung Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai doktrin kepemimpinan dan arah transformasi Polri.

Menurut Fernando, gagasan tersebut memiliki makna yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebab, bagi rakyat, keberadaan polisi bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang rasa aman, pertolongan dan kepastian ketika mereka menghadapi persoalan.

Silakan gulirkan ke bawah

“Rakyat sederhana keinginannya. Ketika rumahnya kemalingan, ada polisi yang datang. Ketika keluarganya menjadi korban kejahatan, ada polisi yang melindungi. Ketika membuat laporan, mereka ingin didengar. Ketika berada dalam kondisi darurat, mereka ingin pertolongan datang dengan cepat. Itulah polisi yang dekat dengan rakyat,” ujar Fernando Emas.

Fernando menilai doktrin yang dibawa Suyudi menjadi penting karena menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian. Hal itu disampaikan Suyudi dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI pada 1 Oktober 2026.

Menurut Fernando, ukuran keberhasilan Polri pada akhirnya bukan hanya terlihat dari banyaknya program, operasi maupun kegiatan kelembagaan, tetapi dari apa yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Seorang ibu yang kehilangan anaknya tentu tidak membutuhkan pidato panjang. Dia membutuhkan polisi yang segera mencari dan melindungi anaknya. Pedagang kecil yang menjadi korban kejahatan membutuhkan kepastian bahwa laporannya ditangani. Orang tua yang melihat anaknya terancam narkoba membutuhkan negara hadir untuk menyelamatkan masa depan anaknya. Di situlah wajah Polri benar-benar dirasakan rakyat,” katanya.

Polisi Hadir Sebelum Masalah Menjadi Besar

Fernando juga menilai kedekatan polisi dengan masyarakat bukan hanya penting dalam penanganan perkara, tetapi juga dalam mencegah terjadinya gangguan keamanan.

Menurutnya, polisi yang dekat dengan lingkungan masyarakat akan lebih mudah mendengar keluhan warga, memahami persoalan sosial dan mengetahui potensi gangguan keamanan sejak dini.

“Polisi jangan hanya hadir setelah kejadian. Kalau polisi dekat dengan masyarakat, banyak persoalan bisa diketahui lebih awal. Konflik bisa dicegah, kejahatan bisa diantisipasi dan masyarakat merasa memiliki tempat untuk mengadu,” ujarnya.

Ia menyebut keberadaan Polsek dan Polres menjadi sangat strategis karena dua struktur tersebut bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, Fernando berharap semangat “Polisi Bersama Masyarakat” benar-benar diterjemahkan hingga ke tingkat kewilayahan, bukan berhenti sebagai doktrin di tingkat pusat.

Rakyat Ingin Polisi yang Bisa Ditemui

Fernando mengatakan, kedekatan dengan masyarakat juga berarti membuka ruang komunikasi yang sehat.

Menurutnya, masyarakat harus memiliki keberanian untuk menyampaikan laporan, keluhan maupun kritik kepada kepolisian tanpa merasa berjarak.

“Polisi harus bisa ditemui, bisa diajak bicara dan mau mendengar. Kritik masyarakat jangan selalu dianggap sebagai serangan. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta justru bisa menjadi alarm bagi institusi untuk memperbaiki diri,” katanya.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Suyudi dalam fit and proper test yang menyebut kritik dan keluhan publik sebagai bagian dari proses evaluasi dan perbaikan institusi.

Fernando menilai pendekatan tersebut penting untuk membangun kembali hubungan yang sehat antara masyarakat dan kepolisian.

“Kalau rakyat berani bicara kepada polisi dan polisi mau mendengar rakyat, di situ ada kepercayaan. Kepercayaan tidak bisa diperintah. Kepercayaan harus dibangun melalui pengalaman masyarakat ketika berhadapan langsung dengan polisi,” tegasnya.

Polisi Kuat Karena Dipercaya

Fernando juga menyoroti pernyataan Suyudi bahwa Polri harus kuat karena dipercaya, bukan karena ditakuti.

Menurutnya, pesan tersebut menyentuh salah satu kebutuhan mendasar masyarakat, yaitu merasa aman ketika melihat aparat penegak hukum.

“Polisi yang ideal adalah ketika anak kecil melihat polisi, dia merasa aman. Ketika orang tua melihat polisi, mereka merasa ada negara yang melindungi. Ketika korban datang ke kantor polisi, mereka merasa datang ke tempat untuk mendapatkan pertolongan. Ini yang menurut saya harus menjadi wajah kepolisian ke depan,” ujarnya.

Suyudi sendiri dalam pemaparannya menyatakan bahwa Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya, dan kewibawaan kepolisian tidak dibangun dengan menjaga jarak dari masyarakat.

Fernando berharap semangat tersebut dapat menjadi budaya kerja seluruh jajaran Polri.

Ia juga menilai masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang tegas terhadap pelaku kejahatan, tetapi juga humanis terhadap korban dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

“Tegas kepada kejahatan, tetapi humanis kepada rakyat. Cepat ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Profesional ketika menangani perkara. Terbuka terhadap kritik. Dan yang paling penting, hadir ketika masyarakat membutuhkan negara.”

Dukungan Harus Diikuti Pengawalan

Fernando menegaskan apresiasinya terhadap gagasan Kapolri baru merupakan bentuk harapan agar program tersebut dapat diwujudkan secara nyata.

Menurutnya, masyarakat tetap memiliki peran untuk mengawal pelaksanaan kebijakan melalui kritik dan masukan yang konstruktif.

“Kita tentu berharap doktrin Polisi Bersama Masyarakat bukan hanya menjadi kalimat yang indah di atas kertas. Rakyat ingin melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada masalah, polisi hadir. Ketika ada korban, polisi melindungi. Ketika ada kejahatan, polisi bertindak. Dan ketika masyarakat memberikan kritik, polisi mendengar,” tutur Fernando.

Ia pun berharap kepemimpinan baru Polri dapat semakin memperkuat hubungan antara institusi kepolisian dan masyarakat.

“Pada akhirnya, rakyat tidak meminta sesuatu yang rumit. Rakyat hanya ingin hidup aman, bekerja tenang, keluarga terlindungi dan ketika membutuhkan pertolongan, polisi hadir. Kalau itu bisa diwujudkan, maka masyarakat akan merasakan bahwa negara benar-benar hadir bersama mereka,” pungkas Fernando Emas.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.