KOMA.ID, JAKARTA — Ketua Umum Poros Muda Indonesia, Frans Freddy, S.H., M.H., menyambut positif terpilihnya Komjen Pol. Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah memperoleh persetujuan DPR RI pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Frans menilai kepemimpinan Polri ke depan perlu semakin memperkuat pendekatan yang humanis, terbuka, dan responsif terhadap dinamika masyarakat, khususnya dalam membangun komunikasi dengan kalangan pemuda, aktivis, mahasiswa, serta Generasi Z.
Menurut Frans, tantangan kepolisian saat ini tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan, tetapi juga bagaimana membangun dan menjaga kepercayaan publik. Di tengah masyarakat yang semakin kritis dan terbuka, Polri dituntut hadir sebagai institusi yang mampu mendengar, berdialog, serta memberikan pelayanan dan penegakan hukum secara profesional dan berkeadilan.
“Kami melihat figur Komjen Pol. Suyudi Ario Seto membawa harapan bagi hadirnya kepemimpinan Polri yang semakin dekat dengan rakyat. Polri harus menjadi institusi yang tidak berjarak dengan masyarakat, termasuk dengan aktivis, mahasiswa, pemuda, dan Generasi Z yang hari ini menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia,” ujar Frans Freddy, S.H., M.H., Ketua Umum Poros Muda Indonesia.
Frans menambahkan, pendekatan kepolisian yang humanis bukan berarti mengurangi ketegasan dalam penegakan hukum. Sebaliknya, ketegasan harus berjalan beriringan dengan profesionalitas, penghormatan terhadap hak masyarakat, transparansi, serta kemampuan membangun komunikasi publik yang sehat.
Suyudi Larang Titipan dan Transaksi dalam Rekrutmen hingga Jamin Karier Polisi Berprestasi
Rekam jejak Suyudi Ario Seto menunjukkan pengalaman panjang di lingkungan kepolisian, khususnya pada bidang reserse dan penyidikan. Sebelum dicalonkan sebagai Kapolri, ia pernah mengemban sejumlah jabatan strategis, antara lain Kapolres, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).
Saat menjabat Kapolda Banten, Suyudi juga memperkenalkan semangat Polisi “HEBAT”, yakni Humanis, Eksis, Bermanfaat, Antisipatif, dan Tegas, yang menempatkan kebermanfaatan dan kedekatan kepolisian dengan masyarakat sebagai bagian dari orientasi pelaksanaan tugas.
Menurut Frans, semangat tersebut relevan untuk dikembangkan dalam skala nasional, terutama menghadapi perubahan karakter masyarakat dan perkembangan teknologi informasi yang membuat generasi muda semakin aktif mengawasi sekaligus menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan negara.
“Generasi Z jangan hanya dipandang sebagai objek pengamanan, tetapi harus dirangkul sebagai mitra strategis. Mereka kritis, cepat memperoleh informasi, berani menyampaikan pendapat, dan mempunyai perhatian besar terhadap isu keadilan. Karena itu, kami berharap kepemimpinan Polri ke depan membuka lebih banyak ruang dialog dengan anak muda dan kelompok masyarakat sipil,” kata Frans.
Poros Muda Indonesia juga berharap kepemimpinan Polri yang baru dapat memperkuat prinsip bahwa penegakan hukum harus memberikan rasa keadilan tanpa membedakan latar belakang maupun kedudukan seseorang. Pelayanan terhadap laporan masyarakat juga diharapkan semakin cepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Suyudi turut menyampaikan komitmen untuk mengatasi fenomena “no viral, no justice”, yakni persepsi bahwa suatu perkara baru mendapatkan perhatian setelah menjadi viral di ruang publik.
Frans menilai komitmen tersebut penting untuk diwujudkan melalui penguatan pelayanan kepolisian dari tingkat pusat hingga kewilayahan.
“Masyarakat seharusnya tidak perlu membuat suatu persoalan viral terlebih dahulu untuk mendapatkan pelayanan dan keadilan. Setiap laporan masyarakat harus memperoleh perlakuan yang profesional sesuai hukum. Jika prinsip ini dapat diwujudkan secara konsisten, kepercayaan publik terhadap Polri akan semakin kuat,” tegas Frans.
Lebih lanjut, Poros Muda Indonesia berharap Polri di bawah kepemimpinan baru terus memperkuat transformasi kelembagaan dengan menempatkan profesionalitas, integritas, transparansi, supremasi hukum, serta kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama.
“Polisi yang kuat bukan hanya polisi yang tegas dalam menegakkan hukum, tetapi juga polisi yang dipercaya rakyat. Kami berharap Jenderal Suyudi mampu membangun Polri yang semakin humanis, modern, terbuka terhadap kritik, dekat dengan aktivis dan generasi muda, serta tetap tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum,” tutup Frans.














