KOMA.ID, PEKALONGAN – Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin mengkritik pelaksanaan kegiatan Maulid Nabi yang dinilai telah keluar dari koridor ajaran Islam. Kritik tersebut disampaikan menyusul viralnya penampilan dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan yang menampilkan kostum dan simbol bernuansa satanic hingga aksi penyembelihan kambing.
KH Ma’ruf Khozin mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi tidak dilakukan secara berlebihan hingga bercampur dengan hal-hal yang bertentangan dengan nilai keislaman.
Ia mengaku selama ini banyak pihak dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sibuk membela tradisi Maulid Nabi dari tuduhan bidah yang dilontarkan kelompok tertentu. Namun, menurutnya, perhatian juga perlu diberikan terhadap praktik Maulid yang dilakukan tanpa didasari pemahaman agama yang memadai.
“Selama bertahun-tahun yang selalu kita bela adalah pelaksanaan Maulid yang dituduh bidah, hingga kita sering berdiskusi secara terbuka dengan kelompok Salafi yang tidak berkenan dengan Maulid Nabi,” kata KH Ma’ruf Khozin dalam tulisannya, Senin (14/9/2026).
Menurut dia, persoalan justru muncul ketika warga NU yang memiliki kecintaan terhadap amaliyah Maulid menjalankannya tanpa didukung pengetahuan agama yang cukup.
“Sementara kita kecolongan di belakang. Yakni warga NU yang senang dengan amaliyahnya tanpa didasari ilmu Agama, mereka sudah terlampau jauh Kebablasan dalam mengamalkan Maulid,” ujarnya.
KH Ma’ruf Khozin menyinggung adanya kegiatan yang menampilkan kostum, simbol, puji-pujian dan aksi penyembelihan hewan yang menurutnya sudah keluar dari tata cara Islami.
“Sudah tercampur kemungkaran, bahkan cara-cara yang keluar dari tata cara yang Islami. Seperti yang baru terjadi di sebuah daerah, yang menampilkan kostum Satanic, kostum, simbol, puji-pujian dan persembahan hewan,” katanya.
Ia mengakui terdapat klarifikasi dari pihak peserta yang menyebut penampilan tersebut terjadi karena ketidaktahuan setelah melihat referensi dari YouTube. Namun, menurut KH Ma’ruf Khozin, alasan tersebut tidak serta-merta membuat cara pelaksanaan tersebut dapat dibenarkan.
“Meski kemudian ada yang mengklarifikasi bahwa hal itu murni ketidaktahuan karena melihat referensi dari YouTube. Apapun alasannya cara ini sudah Kebablasan dan tidak bisa ditolerir mengatasnamakan Maulid Nabi,” tegasnya.
Terlebih, lanjut dia, kegiatan tersebut disebut melibatkan panitia dari kalangan Nahdliyin.
“Apalagi panitianya adalah saudara kita sendiri, dari Nahdiyin,” ujarnya.
Kembali ke Cara KH Hasyim Asy’ari
KH Ma’ruf Khozin kemudian mengajak umat Islam, khususnya warga NU, kembali kepada tata cara pelaksanaan Maulid Nabi yang dianjurkan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari telah memberikan panduan mengenai bentuk peringatan Maulid yang sesuai dengan koridor agama.
Ia mengutip keterangan KH Hasyim Asy’ari dalam kitab At-Tanbihat Al-Wajibat, yang menjelaskan bahwa Maulid dapat dilakukan dengan berkumpul, membaca Al-Qur’an, menyampaikan riwayat tentang Nabi Muhammad SAW sejak masa kehamilan, kelahiran hingga perjalanan hidupnya, kemudian menyajikan makanan. Penambahan rebana juga diperbolehkan selama tetap menjaga etika.
“Berdasarkan dari pendapat para ulama berkaitan dengan Maulid Nabi yang dianjurkan adalah mengumpulkan umat Islam dengan membaca Quran, menyampaikan riwayat Hadits tentang Rasulullah, mulai dari kehamilan, kelahiran dan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Juga perjalanan hidup diri nabi yang penuh dengan keberkahan, kemudian disajikan hidangan untuk dimakan dan berakhir sampai di situ,” kata KH Ma’ruf Khozin mengutip penjelasan KH Hasyim Asy’ari.
“Apabila ditambahkan dengan menabuh rebana sambil menjaga etika maka tidak apa-apa,” lanjutnya.
Sebaliknya, KH Ma’ruf Khozin mengingatkan adanya bentuk-bentuk kegiatan yang tidak diperbolehkan ketika peringatan Maulid justru diisi dengan kemungkaran, seperti percampuran laki-laki dan perempuan, berjoget, permainan yang menyerupai perjudian, suara berlebihan hingga aktivitas lain yang keluar dari adab.
Ia kembali mengutip KH Hasyim Asy’ari yang menyebut bahwa ketika suatu kegiatan keagamaan justru mengarah kepada kemaksiatan yang lebih besar, kegiatan tersebut harus ditinggalkan.
Maulid Tak Boleh Jadi Alasan Pembenaran
KH Ma’ruf Khozin menegaskan bahwa label Maulid Nabi tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan segala bentuk kegiatan yang dilakukan di dalamnya.
Ia mengutip pernyataan KH Hasyim Asy’ari:
“Berdasarkan dari pendapat para ulama berkaitan dengan Maulid Nabi yang dianjurkan adalah mengumpulkan umat Islam dengan membaca Quran, menyampaikan riwayat Hadits tentang Rasulullah, mulai dari kehamilan, kelahiran dan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan.”
KH Ma’ruf Khozin menjelaskan, seluruh rujukan yang digunakannya berasal dari karya KH Hasyim Asy’ari, At-Tanbihat Al-Wajibat, yang secara khusus membahas kewajiban memberikan peringatan kepada pengamal Maulid yang melaksanakannya dengan cara-cara yang mengandung kemungkaran.
Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari bahkan pernah menyaksikan secara langsung pelaksanaan Maulid yang diwarnai kemungkaran dan kemudian membubarkan kegiatan tersebut. Hal itu menjadi salah satu alasan ditulisnya kitab tersebut agar praktik serupa tidak menyebar ke tempat lain.
Sementara itu, polemik di Pekalongan bermula dari penampilan salah satu peserta SKNC 2026 yang viral di media sosial. Dalam penampilan tersebut terdapat adegan penyembelihan kambing di depan panggung kehormatan.
Panitia SKNC 2026 sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan. Perwakilan peserta juga menjelaskan bahwa konsep kostum dan pertunjukan dibuat setelah mereka melihat sejumlah referensi karnaval di YouTube.
Pihak peserta menyebut konsep tersebut dibuat dalam waktu relatif singkat dan aksi penyembelihan kambing memang telah direncanakan sebagai bagian dari kegiatan setelah karnaval, karena kambing tersebut akan digunakan untuk keperluan hajatan.
Bagi KH Ma’ruf Khozin, penjelasan tersebut justru menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya ilmu agama dalam menjalankan tradisi keagamaan, termasuk Maulid Nabi. Ia meminta agar kecintaan terhadap tradisi tidak membuat umat mengabaikan batasan-batasan syariat dan adab dalam pelaksanaannya.









