Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Film Ageman Hadirkan Pesan Persaudaraan, Romo Roy: Perbedaan Adalah Anugerah

×

Film Ageman Hadirkan Pesan Persaudaraan, Romo Roy: Perbedaan Adalah Anugerah

Sebarkan artikel ini
Img 20260912 Wa0010

Jakarta – Edukasi keberagaman melalui film layar lebar bertajuk Ageman terus menyedot perhatian publik.

Film edukasi bertema toleransi berbasis kearifan lokal karya sutradara Jasper Lance Piscasio dan produser Ken Setiawan ini dijadwalkan tayang perdana pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Silakan gulirkan ke bawah

Film Ageman menghadirkan jajaran pemeran unik yang merangkul berbagai elemen masyarakat secara nyata mulai dari jajaran pejabat Pemprov Lampung seperti Ibu Gubernur, Ibu Sekda, hingga deretan Kepala Dinas, akademisi, tokoh budaya, serta para pemimpin lintas agama.

Salah satu tokoh agama yang ikut beradu peran adalah RD. Philipus Suroyo, atau yang akrab disapa Romo Roy. Imam diosesan Keuskupan Agung Palembang/Lampung yang aktif dalam forum kerukunan, dialog lintas iman,kegiatan FKUB dan FKPT Provinsi Lampung ini tampil membawakan pesan perdamaian yang mendalam.

Dalam alur cerita, Romo Roy beradu akting dengan dua pemeran utama, Aluna dan Zaskia, yang dikisahkan sedang mencari jati diri serta pencerahan di tengah terpaan sikap intoleransi.

Melalui perannya, Romo Roy menegaskan pentingnya persaudaraan kemanusiaan tanpa terkendala sekat-sekat perbedaan.

“Sejatinya kita itu bersaudara, dunia ini adalah rumah bersama. Kita harus mengasihi sesama tanpa batas geografis, suku, maupun agama. Perbedaan adalah anugerah, bukan alasan untuk bertikai, melainkan kekayaan untuk saling melengkapi,” ujar Romo Roy.

Ia menganalogikan Ageman atau pakaian yang dikenakan setiap orang. Meski bentuk, corak, dan warnanya berbeda-beda, fungsi dasarnya tetap sama sebagai pelindung tubuh dan identitas diri.

Menurutnya, perbedaan ‘baju’ tak boleh merusak kebersamaan bangsa di bawah naungan NKRI.

“Kita harus membangun jembatan, bukan tembok. Mengutamakan dialog dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Di atas segala perbedaan, kita tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ageman yang juga Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat.

“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai.

Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.