Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Beda dari Kehidupan Nyata, Dosen UIN Rudy Irawan Totalitas Jadi Tokoh Intoleran di Film ‘Ageman’

×

Beda dari Kehidupan Nyata, Dosen UIN Rudy Irawan Totalitas Jadi Tokoh Intoleran di Film ‘Ageman’

Sebarkan artikel ini
Img 20260905 Wa0002

Koma.id, Lampung – Film edukasi keberagaman bertajuk Ageman siap menyapa penikmat sinema Tanah Air.

Mengusung misi filosofis tentang pentingnya toleransi, film karya sutradara Jasper Lance Piscasio dan Produser Ken Setiawan ini mengemas pesan perdamaian lewat cerita keseharian yang dekat dengan masyarakat.

Silakan gulirkan ke bawah

Diproduksi atas kolaborasi talenta muda Bandar Lampung serta didukung penuh oleh Eksekutif Produser Dr M Firsada selaku Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung, film Ageman mengambil latar belakang unik di enam rumah ibadah yang mewakili seluruh agama resmi di Indonesia, lengkap dengan kehadiran tokoh agama serta budaya lokal.

Di antara jajaran pemeran, sosok Rudy Irawan mencuri perhatian. Dalam film ini, ia dipercaya memerankan karakter Pak Budiman, sosok ayah antagonis dengan pandangan intoleran yang melarang putrinya, Ratri, berteman dengan kawan sebaya karena perbedaan keyakinan.

Peran tersebut terasa bertolak belakang dengan latar belakang kehidupan nyata Rudy Irawan. Sehari-hari, Rudy merupakan seorang akademisi yang aktif mengajar sebagai dosen di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung.

Tak hanya itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan kebangsaan, seperti MUI, FKUB, hingga PCNU Lampung.

Meskipun harus memerankan karakter yang berseberangan dengan prinsip kesehariannya, Rudy mengaku bersyukur dan bangga dapat berkontribusi dalam film edukatif ini.

Menurutnya, karakter antagonis justru menjadi cermin kondisi faktual yang masih kerap ditemui di tengah masyarakat.

“Film Ageman ini sangat bagus karena memotret realitas faktual di lapangan. Kendati kebagian peran antagonis yang mungkin membuat penonton geregetan, saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari karya ini,” ungkap Rudy Irawan.

Rudy menceritakan, proses pengambilan gambar membutuhkan komitmen dan ketahanan fisik yang tinggi.

Jam syuting yang padat dari pagi hingga malam hari tak menyurutkan semangatnya demi menyampaikan pesan moral yang kuat kepada penonton. Melalui film Ageman.

Rudy berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia.

“Indonesia adalah bangsa yang multikultural. Karena itu, dibutuhkan sikap toleransi dan saling menghargai.

Harapan saya, pesan dalam film ini bisa sampai ke masyarakat agar kita semua dapat hidup rukun, aman, dan damai dalam bingkai kebhinekaan,” tuturnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.