Koma.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai meminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) setelah jumlah peserta yang meninggal dunia bertambah menjadi lima orang.
Pigai menegaskan setiap warga negara memiliki hak untuk hidup dan memperoleh perlindungan atas keselamatan selama mengikuti program yang diselenggarakan pemerintah. “Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa. Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh,” kata Pigai, Senin (29/6/2026).
Ia meminta evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum pelatihan, standar operasional prosedur (SOP), tingkat intensitas latihan fisik, hingga sistem pemeriksaan kesehatan peserta sebelum dan selama mengikuti pendidikan. Menurut Pigai, aspek keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama.
Pigai menuturkan, terdapat tiga aspek utama yang perlu dibangun dalam pendidikan tersebut, yakni pengetahuan, keterampilan, dan mental. Namun, penguatan mental tidak harus identik dengan pendekatan militer, melainkan dapat diwujudkan melalui pembentukan disiplin, tanggung jawab, kejujuran, serta kemampuan bekerja secara cepat dan tepat.
“Bagian yang ketiga ini (mental) tidak harus ditanamkan dengan sistem militer, tetapi sifatnya yakni disiplin, tanggung jawab, cepat, tepat, dan jujur. Harus menghindari latihan fisik yang berlebihan,” ujar dia.
Selain itu, Pigai juga mendorong adanya investigasi yang transparan terhadap setiap kasus kematian peserta untuk memastikan penyebabnya secara objektif serta menjadi dasar perbaikan pelaksanaan program di masa mendatang. Ia menilai hasil evaluasi perlu disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas pemerintah.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengungkapkan jumlah peserta yang meninggal dunia selama mengikuti latsarmil telah bertambah menjadi lima orang. Dari hasil pemeriksaan medis sementara, penyebab kematian para peserta bervariasi, di antaranya diduga akibat heat stroke, henti jantung (cardiac arrest), tuberkulosis (TB), serta kondisi medis lainnya yang masih dalam pendalaman.
Meski demikian, Kemhan memastikan program pelatihan tetap dilanjutkan dengan melakukan evaluasi terhadap metode pelaksanaan, pengawasan kesehatan, dan mekanisme penanganan darurat bagi peserta. Pemerintah juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia dan berkomitmen memperbaiki penyelenggaraan program agar kejadian serupa tidak terulang.











