KOMA.ID, JAKARTA – Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika, menilai keterlibatan anggota keluarga dalam dunia politik tidak serta-merta dapat disebut sebagai praktik nepotisme. Menurut mantan politisi Partai Demokrat itu, yang harus menjadi ukuran adalah proses pembentukan kapasitas dan kompetensi, bukan sekadar hubungan kekerabatan.
Gede Pasek mengatakan regenerasi dalam berbagai bidang, termasuk politik, merupakan hal yang lumrah terjadi. Ia mencontohkan banyak profesi yang secara alami diteruskan kepada anak-anaknya, mulai dari pengusaha hingga dokter.
“Menyiapkan generasi di semua bidang itu hal yang wajar. Orang tuanya pengusaha lalu anaknya dididik usaha, orang tuanya dokter anaknya diarahkan menjadi dokter. Bapaknya terjun ke politik lalu anaknya diajak ke politik. Jadi hal yang biasa saja,” ujar Gede Pasek dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/6/2026).
Ia juga menyinggung sejumlah keluarga politik yang dikenal di dunia maupun Indonesia, seperti keluarga Kennedy, Nehru-Gandhi, Marcos, hingga sejumlah tokoh nasional seperti Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amien Rais, Surya Paloh, Zulkifli Hasan, dan Aidis Kadir.
Di daerah, menurutnya, fenomena serupa juga dapat ditemukan pada sejumlah kepala daerah, termasuk di Bali.
Namun demikian, Gede Pasek menegaskan bahwa yang perlu dibedakan adalah apakah proses tersebut merupakan nepotisme atau justru regenerasi yang dibangun melalui persiapan yang matang.
“Yang harus dibedakan adalah prosesnya. Apakah nepotismenya yang diutamakan atau memang disiapkan secara baik dengan perencanaan yang matang,” katanya.
Menurut Gede Pasek, saat ini Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto? Wait, no—he referred to Jokowi. Ia menyebut mantan Presiden Joko Widodo tengah menjadi sorotan karena aktif mendukung putranya yang kini memimpin Partai Solidaritas Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa praktik regenerasi politik juga telah lama terjadi di berbagai partai lain.
Lebih lanjut, Gede Pasek mengaku dirinya juga kerap dikaitkan dengan isu serupa. Meski aktif di politik, ia menegaskan hingga kini belum ada anaknya yang terjun ke politik praktis.
“Lalu hal yang sama juga dibidikkan ke diri saya yang juga terjun ke politik. Maka sampai sekarang anak saya belum ada terjun ke politik praktis. Tetapi saya juga tidak melarang atau menghambatnya jika ada bakatnya. Saya tidak mau membangun nepotisme, tetapi menyiapkan regenerasi,” ujarnya.
Ia kemudian menceritakan bagaimana dirinya mendidik kedua anaknya yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu publik. Anak sulungnya, kata Gede Pasek, didorong menempuh pendidikan di Rusia, menguasai beberapa bahasa asing, aktif berorganisasi, hingga mencari pekerjaan sendiri tanpa campur tangan orang tua.
Sementara anak bungsunya memilih menempuh pendidikan di bidang ilmu sosial politik dan hukum, aktif di organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, mengikuti demonstrasi mahasiswa, hingga membangun relasi secara mandiri.
“Biar menempa dirinya sesuai dengan alur yang diinginkan. Kalau kelak dia memang pantas ya itu karena menempa diri, baik pendidikan maupun aktivitas organisasi,” katanya.
Gede Pasek menegaskan, perbedaan mendasar antara nepotisme dan regenerasi terletak pada cara seseorang memperoleh kesempatan.
“Bagi saya, nepotisme itu memanfaatkan kekuasaan yang kebetulan dimiliki, lalu si anak dipaksakan untuk mewarisi kekuasaan lama yang dimiliki orang tuanya. Si anak walau secara kompetensi belum siap tetapi dipaksakan karena ada aji mumpung,” jelasnya.
Sebaliknya, regenerasi, lanjutnya, merupakan proses mempersiapkan generasi penerus agar memiliki kualitas, pengalaman, dan kematangan sebelum memasuki dunia politik atau profesi lainnya.
“Regenerasi lebih pada penyiapan anak agar jika di kemudian hari mengikuti jejak orang tuanya, memiliki kualitas yang tidak memalukan karena telah melewati proses kematangan diri lewat mekanisme yang benar,” tegas Gede Pasek.
Di akhir pernyataannya, ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai apakah keterlibatan keluarga dalam politik merupakan bentuk pelanggengan kekuasaan melalui nepotisme atau bagian dari proses regenerasi.
“Jika sekarang muncul perdebatan apakah keluarga tertentu melanggengkan kekuasaan dengan nepotisme atau justru menyiapkan regenerasi, silakan dinilai sendiri-sendiri. Lihat dari prosesnya,” pungkasnya.












