Koma.id– Kabar duka menyelimuti pelaksanaan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Sebanyak lima peserta dilaporkan meninggal dunia setelah mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil), memicu desakan dari kalangan legislatif agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, menilai insiden tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk meninjau kembali konsep pelatihan yang diterapkan. Menurutnya, latihan militer tidak memiliki keterkaitan langsung dengan tugas calon manajer koperasi sehingga dinilai tidak relevan.
TB Hasanuddin meminta pemerintah menghentikan pelaksanaan latsarmil dan menyusun kembali desain pembinaan peserta dengan mengedepankan aspek keselamatan serta kebutuhan kompetensi yang sesuai dengan tujuan program.
“Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka,” kata TB Hasanuddin.
Senada dengan itu, Anggota Komisi I DPR lainnya, Oleh Soleh, menilai peristiwa tersebut merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele. Ia menegaskan setiap kematian peserta harus diusut secara menyeluruh dan menjadi dasar evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan.
“Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut,” kata Soleh.







