KOMA.ID, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar mengapresiasi kehidupan masyarakat Papua Barat. Ia pun mengatakan bahwa warga Papua Barat mampu menjaga harmoni di tengah kemajemukan.
Lantas, Menag pun menyebut Papua Barat sebagai salah satu contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat, ketika seluruh elemen bangsa mengedepankan dialog, saling menghormati, dan gotong royong.
“Papua Barat menunjukkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk hidup rukun. Justru dari perbedaan itu lahir persaudaraan yang memperkuat persatuan,” ungkap Menag Nasaruddin saat memberikan sambutan pada kegiatan Merawat Harmoni Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, di Manokwari, Minggu (28/6/2026).
Prof Nasaruddin lalu mengingatkan bahwa keberagaman Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus terus dirawat sebagai fondasi utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, harmoni antar-masyarakat tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk saling menghormati dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.
Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat. Karena itu, menjaga kerukunan bukan sekadar agenda sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab kebangsaan yang harus dipikul seluruh elemen masyarakat.
“Perbedaan adalah keindahan. Tuhan sengaja menciptakan manusia berbeda agar saling melengkapi, bukan saling meniadakan,” ujar Menag.
Menurutnya, perbedaan tidak boleh dipandang sebagai sumber konflik, tetapi sebagai ruang untuk memperkuat solidaritas, memperkaya peradaban, dan membangun kehidupan bersama yang lebih bermartabat. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang mampu mengelola keberagaman dengan baik akan memiliki daya tahan sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Lebih lanjut, Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat beragama untuk membangun cara pandang yang berorientasi pada persamaan nilai-nilai kemanusiaan, bukan mempertajam perbedaan identitas. Ia menjelaskan bahwa ajaran agama pada hakikatnya membawa pesan universal tentang kasih sayang, keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
“Kalau kita lebih banyak mencari persamaan, maka persaudaraan akan semakin kuat. Jangan sibuk mencari perbedaan,” tegasnya.
Menag mengajak seluruh masyarakat Papua Barat untuk terus merawat semangat toleransi dan menjadikan daerah tersebut sebagai rumah bersama yang damai, rukun, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, keberhasilan menjaga kerukunan di tingkat daerah merupakan kontribusi nyata bagi kokohnya persatuan Indonesia.













