KOMA.ID, JAKARTA – Sekretaris Kabinet Merah Putih Letnan Kolonel (Inf) TNI Teddy Indra Wijaya akhirnya angkat bicara merespons kritik dan sejumlah masukan yang disampaikan diplomat senior Dino Patti Djalal terkait tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Teddy menyampaikan apresiasi atas pandangan yang diberikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri tersebut. Namun di saat yang sama, ia juga melontarkan sindiran halus yang langsung menyita perhatian publik.
“Sebelumnya terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” kata Teddy dalam video yang disiarkan di Youtube Sekretariat Kabinet.
Megawati Siap Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila dan Dengarkan Pidato Prabowo Langsung Besok
Pernyataan itu dinilai sebagai satire terhadap Dino yang sebelumnya mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo serta mengusulkan agar diplomasi lebih banyak dilakukan melalui sambungan telepon, konferensi video, atau didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri.
Menanggapi kritik mengenai biaya kunjungan kenegaraan, Teddy menegaskan bahwa seluruh pengeluaran yang melebihi anggaran resmi negara ditanggung langsung oleh Presiden Prabowo secara pribadi.
“Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” ujarnya.
Selain itu, Teddy juga membantah anggapan bahwa rombongan Presiden saat melakukan lawatan luar negeri terlalu besar. Menurutnya, jumlah delegasi saat ini justru telah dipangkas lebih dari separuh dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.
“Kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Nah zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” katanya.
Terkait usulan agar agenda kunjungan luar negeri Presiden diumumkan dan dirancang satu tahun sebelumnya, Teddy menilai kondisi geopolitik dunia saat ini sangat dinamis sehingga tidak semua agenda dapat dipastikan jauh hari.
“Perkembangan dunia global itu sangat dinamis hari per hari. Jadi ada jadwal tahunan dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara,” jelasnya.
Lebih lanjut, Teddy menegaskan bahwa aktivitas diplomasi Presiden Prabowo tidak bisa hanya dinilai dari frekuensi perjalanan atau aspek seremonial semata. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian sehingga hubungan personal antar pemimpin dunia menjadi sangat penting.
“Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Ada konflik di Ukraina, kemudian di Timur Tengah, dan berbagai dinamika geopolitik lainnya. Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan diplomasi tidak bisa hanya mengandalkan komunikasi saat krisis terjadi.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya,” kata Teddy.
Karena itu, menurutnya, kedekatan personal dan emosional antar kepala negara merupakan bagian penting dari diplomasi modern yang tidak selalu terlihat di ruang publik.
“Nah itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan secara seremonial,” tegasnya.
Sebagai bentuk pembelaan terhadap diplomasi Presiden Prabowo, Teddy membeberkan sejumlah capaian yang menurutnya merupakan hasil langsung dari aktivitas hubungan luar negeri selama satu setengah tahun terakhir.
Ia menyebut keberhasilan Indonesia bergabung dengan BRICS, tercapainya kesepakatan tarif nol persen dengan Uni Eropa, masuknya investasi senilai sekitar Rp2.430 triliun, hingga tambahan investasi sekitar Rp575 triliun pasca kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan.
Selain itu, Teddy juga menyinggung penguatan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, kelancaran penyelenggaraan ibadah haji, keterlibatan aktif Indonesia dalam membantu Palestina, hingga keberhasilan diplomasi pemerintah membebaskan warga negara Indonesia yang sempat diamankan otoritas Israel.
Menurut Teddy, seluruh capaian tersebut merupakan hasil diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo baik melalui pertemuan yang dipublikasikan maupun komunikasi tertutup yang tidak diketahui publik.
“Yang tadi saya sampaikan adalah hasil konkret nyata satu setengah tahun terakhir. Dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara, baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya,” ujarnya.
Teddy juga menjawab usulan Dino terkait formula pertemuan bilateral dengan kepala negara lain dalam setiap forum internasional. Menurutnya, penentuan prioritas pertemuan merupakan kewenangan Presiden dan Menteri Luar Negeri yang memahami kebutuhan diplomasi Indonesia secara menyeluruh.
“Mana yang prioritas, mana yang harus diutamakan, mana yang cukup menggunakan telepon, mana yang perlu diberitakan dan mana yang tidak diberitakan. Dan saya rasa semua diplomat hebat tahu itu. Jadi kurang elok rasanya kalau itu masih dipermasalahkan,” katanya.
Menutup tanggapannya, Teddy menegaskan pemerintah terbuka terhadap berbagai kritik dan masukan. Namun ia mengingatkan agar perdebatan mengenai diplomasi tidak mengabaikan hasil-hasil yang telah dicapai Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
“Ruang untuk setiap masukan tentu kita terima, tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,” pungkasnya.













