Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Berita

Publik Internasional Kini Mulai Paham Realitas Indonesia

Views
×

Publik Internasional Kini Mulai Paham Realitas Indonesia

Sebarkan artikel ini
Publik Internasional Kini Mulai Paham Realitas Indonesia

Koma.id Nilai tukar rupiah terus tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat, sementara respons pemerintah dinilai minim langkah konkret. Di tengah gejolak ekonomi itu, laporan majalah The Economist edisi 14 Mei 2026 yang menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai pemimpin yang “boros dan otoriter”.

Pakar Hukum Tata Negara dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jentera, Bivitri Susanti menyatakan tidak terkejut dengan isi laporan tersebut. Menurutnya, kritik internasional itu mencerminkan realitas yang kian terlihat oleh publik global.

Silakan gulirkan ke bawah

Laporan The Economist yang dimaksud terbagi dalam dua artikel: “Indonesia’s President is Jeopardising the Economy and Democracy” dan “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country is on a Risky Path”. Keduanya menyoroti kebijakan fiskal yang dinilai boros serta tren konsolidasi kekuasaan yang berpotensi mengikis checks and balances demokrasi.

“Tetapi karena yang menerbitkan tulisan itu orang luar (Indonesia), jadi gak bisa dibungkam atau diteror dengan dikirimin kepala babi,” kata Bivitri seraya tertawa, kepada IDN Times, melalui saluran telepon, Jumat malam, 14 Mei 2026.

Bivitri menilai publik internasional kini memiliki gambaran lain soal Indonesia karena tulisan The Economist ditulis dalam bahasa Inggris dan dapat menjangkau audiens global.

Selain soal kebijakan fiskal, The Economist juga menyinggung peristiwa kekerasan terhadap aktivis HAM, termasuk serangan air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, serta perluasan peran militer dalam urusan sipil. Bivitri menyebut isu-isu tersebut sebagai bagian dari kekhawatiran mendasar yang diangkat majalah itu.

Terkait dampak terhadap investor, Bivitri ragu laporan tersebut akan menjadi satu-satunya faktor penentu keputusan investasi.

“Meskipun dia gak baca The Economist, pasti ada konsultannya yang akan ngasih advice. Mereka juga akan mengecek lewat kedutaan masing-masing. Selain itu, mereka juga akan mengecek lewat kamar dagang-kamar dagang. Menurut saya, kondisi ekonomi sudah sangat buruk tapi bukan dipicu artikel The Economist,” katanya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.