Koma.id | Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memulai langkah stabilisasi nilai tukar rupiah setelah mata uang Garuda sempat menembus Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa (12/05). Pemerintah mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk intervensi di pasar obligasi negara mulai Rabu (13/05).
“Besok kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market. Kita punya BSF, kita aktifkan instrumen yang ada,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa.
Strategi Intervensi
- BSF di pasar obligasi: Dana digunakan membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor asing.
- Stabilisasi yield: Menjaga imbal hasil tetap kompetitif agar investor asing tidak mengalami capital loss.
- Tahap awal: Intervensi menggunakan kas negara tanpa perlu koordinasi dengan BI maupun OJK melalui KSSK.
Kondisi Pasar
- Pada perdagangan Selasa, rupiah ditutup melemah ke Rp 17.529 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.
- Rabu pagi, rupiah dibuka menguat tipis 0,08 persen ke Rp 17.515 per dolar AS.
- Pergerakan mata uang Asia bervariasi: won Korea Selatan melemah terdalam, sementara baht Thailand menguat 0,22 persen.
Purbaya menyatakan siap menghadiri panggilan DPR RI terkait pelemahan rupiah, meski menegaskan bahwa urusan stabilitas kurs merupakan tanggung jawab bank sentral. “Kalau dipanggil, kita siap. Tapi rupiah itu urusan bank sentral,” tegasnya.
Purbaya mengakui kurs rupiah sudah melampaui asumsi APBN 2026 di kisaran Rp 16.500–16.900 per dolar AS. Namun ia menegaskan posisi APBN masih relatif aman. “Masih aman, tapi kita akan kendalikan,” ujarnya.








